むかし、むかし、あるところに、おかあさんと子どもが住んでおりました。家が貧乏だったので、小どもが十二になったとき、おかあさんにいいました。
「おかあさん、おかあさん、いままでは、おかあさんになんぎをさせましたが、わたしも、十二になったから、これからは、いっしょうけんめいはたらいて、おかあさんに、らくをさせてあげます。」
そして、それから、おかあさんにかわって、まい日、まい日、山へたきぎをとりにでかけることになりました。おかあさんは、おおよろこびして、子どもにべんとうをつくって、もたせてやりました。
ある日のことです。子どもが、おかあさんのつくたべんとうを、木の枝にぶらさげて、木の上にのぼって、枯れ枝をおっておりました。すると、そこへ、どこからか、しらがのおじいさんがやってきて、子どもに、くれともいわず、枝のべんとうを、ムシャムシャたべはじめました。子どもは、上からそれをみて、
「へんなおじいさんも、あるものだなあ。」
と、おもいました。しかし、また、
「きっと、あのおじいさん、おなかがすいてこまっているのだな。それなら、きのどくだから、おべんとうをあげることにしよう。じぶんは、家へかえれば、いくらでもたべられるから。」
そう、おもいかえしました。それで、木をおりてくると、
「おじいさん、おじいさん、えんりょなくおあがりなさい。」
そういいました。おじいさんは、
「ありがとう。年をとると、おなかがすいてなあ。」
そういって、おべんとうを、みんなたべてしまいました。子どもは、たきぎをせおって、家へかえってきましたが、かえるとすぐ、山であったおじいさんの話をしました。すると、おかあさんがいいました。
「そうか、そうか。それはいいことをしたね。それでは、あすは、そのおじいさんのぶんと、ふたつのおべんとうをつくっておこう。」
それで、子どもは、そのあくる日、ふたつのべんとうをもって、家をでていきました。山へいくと、まえの日のとおり、それを木の枝へかけ、じぶんは上にのぼって、枯れ枝をおっていました。すると、しらがのおじいさんが、また、どこからかやってきて、枝のおべんとうをとってたべはじめました。しかも、ひとつたべると、ふたつめもたべております。子どもは、これをみると、
「おじいさん、よっぽど、おなかがすいてるのだなあ。わたしは、家へかえれば、いくらでもたべられるのだから、べんとうなんかなくてもいい。」
そうおもって、木をおりると、おじいさんにいいました。
「おじいさん、おじいさん、えんりょなく、ふたつともおあがりなさい。」
おじいさんは、
「ありがとう。ありがとう。年をとると、おなかがすいてなあ。」
そういって、ふたつともたべてしまいました。
三日めは、べんとうをひとつだけもって山へいきました。おかあさんがよそにいくので、子どもに、はやくかえるようにと、おじいさんのぶんだけつくってくれたのです。
山へいって、木にのぼりかけたら、いつものおじいさんがでてきて、
「子ども、子ども、おまえは、気だてのいい、しんせつな子どもだ。それで、これから、おまえに、いってきかせることがある。わたしは、この山に住む、山の神さまだ。」
そこで、子どもは、木からおり、神さまのまえの石に腰をかけ、神さまのことばをききました。
「これから西のほうへいくと、天竺というところがある。そこには、おまえが、いままでみたこともないような、りっぱなお寺がある。そこへ、これからおまいりしてくるがいい。いくとき、だれかが、きっと、おまえに、たのみごとをするはずだから、そのたのみごとをきいてやるがよい。」
おじいさんは、そういったかとおもうと、もう、そこに、大きなカシの木になってたっていました。
子どもは、家にかえって、おかあさんに、その話をしました。おかあさんも、その話にだいさんせいで、それではというので、天竺いきのしたくをはじめました。ところが、天竺というのは、とおいとおいところで、いくのに、なん日もなん日もかかります。それで、米だの、みそだの、たくさんもっていかなければなりません。たいへんだというので、おかあさんと相談して、近所の長者のうちへ、米やみそをかりにいきました。
「こんど、わたひは、天竺の、みたこともないような、りっぱなお寺へおまりにいきます。それで、もうしかねますが、道中にりょうな米とみそを、おかしくださいませんか。」
そういうと、長者は、
「それは、けっこうなことだ。ついては、こちらにもたのみがある。うちのむすめが、もう三年も病気している。その天竺の、みたこともないような、りっぱなお寺へおまいりしたら、むすめの病気のなおるように、おいのりしてきてくれないか。」
と、いいました。
「それは、おやすいご用です。」
そういって、子どもは、米とみそをかりて、天竺へ出立しました。なん日もなん日もいったところで、一軒のりっぱな家へとめてもらいました。すると、そこの主人がいいました。
Dewa Gunung dan Seorang Anak (halaman 183-188)
Dahulu kala, di suatu tempat, tinggallah seorang ibu dan anaknya. Karena mereka adalah keluarga yang miskin, saat si anak menginjak usia 12 tahun, dia berkata pada ibunya, “Ibu, Ibu, selama ini aku selalu menyusahkan Ibu, aku pun sudah berusia 12 tahun, mulai saat ini aku akan bekerja keras untuk memberikan Ibu kesenangan.”
Maka, sejak saat itu, menggantikan ibunya, setiap hari dia pergi ke gunung untuk mengambil kayu bakar. Ibunya merasa senang dan membuatkan bekal makan siang untuk dibawa anaknya.
Suatu hari, si anak menggantungkan bekal makan siang yang dibuat ibunya di dahan pohon, lalu dia naik ke atas pohon dan mematahkan cabang pohon yang mati. Tiba-tiba, entah dari mana, kakek berambut putih muncul dan langsung mengunyah bekal makan siang si anak tanpa minta izin. Dari atas pohon si anak melihat dan berpikir, “Ada juga kakek yang aneh ya.” Namun dia berpikir lagi, “Pasti kakek itu sangat kelaparan. Aku merasa kasihan oleh karena itu aku akan berikan bekal makan siangku untuknya. Aku bisa makan sepuasnya kalau pulang ke rumah nanti.”
Berubah pikiran, si anak pun turun dari pohon dan berkata, “Kakek, kakek, jangan malu-malu. Silakan makan.” Si kakek pun berkata, “Terima kasih. Semakin tua, perut pun jadi lapar.” Lalu si kakek pun memakan bekal makan siang sampai habis. Si anak memanggul kayu bakar dan pulang ke rumah. Setibanya di rumah, dia langsung bercerita tentang kakek yang ada di gunung kepada ibunya. Ibunya berkata, “Begitukah? Kau telah melakukan sesuatu yang baik. Kalau begitu, besok ibu akan membuatkan dua bekal makan siang, untuk kakek juga.”
Hari berikutnya, si anak pergi membawa dua bekal makan siang. Si anak pergi ke gunung, dan seperti kemarin, memanjat cabang pohon lalu naik ke atasnya, dan mematahkan cabang yang mati. Tiba-tiba, entah dari mana, kakek berambut putih muncul lagi, mengambil bekal makan siang yang terjuntai di dahan pohon, dan mulai memakannya. Setelah menghabiskan bekal makan siang itu, dia juga memakan bekal makan siang yang kedua. Melihat itu, si anak berpikir, “Kakek sangat kelaparan ya. Aku bisa makan sepuasnya kalau pulang ke rumah nanti, jadi tidak makan bekal makan siang pun tak apa.”
Si anak turun dari pohon dan berkata kepada si kakek, “Kakek, kakek, jangan malu-malu. Silakan makan bekal makan siang yang kedua.” Kakek itu menjawab, “Terima kasih, terima kasih. Semakin tua, perut pun jadi lapar,” dan menghabiskan bekal makan siang yang kedua.
Di hari ke-3, si anak pergi ke gunung hanya membawa satu bekal makan siang. Karena ibunya sedang pergi ke suatu tempat, supaya pulang lebih cepat, si anak hanya membuatkan bekal makan siang untuk kakek saja.
Si anak pergi ke gunung, dan segera saja saat dia memanjat pohon, muncullah kakek yang biasanya dan kakek itu berkata, “Nak, nak, engkau memiliki kepribadian yang baik, anak yang baik hati. Oleh itu, sekarang akan aku beritahu sesuatu. Aku adalah dewa gunung yang tinggal di gunung ini.”
Mendengar itu, si anak turun dari pohon, lalu duduk di batu di depan dewa gunung, dan dia pun mendengarkan kata-kata dewa itu. “Jika kau pergi ke sebelah barat dari sekarang, ada tempat yang disebut India. Di tempat yang belum pernah kau lihat sebelumnya itu, ada kuil yang megah. Pergilah ke sana untuk berdoa. Di perjalanan, pasti akan ada orang yang meminta tolong padamu, akan sangat baik jika kau penuhi permintaan mereka.”
Sesaat setelah si kakek selesai berbicara, tumbuhlah pohon ek yang besar.
Si anak pulang ke rumah, lalu menceritakan apa yang terjadi. Ibunya sangat setuju, maka mereka mulai mempersiapkan kepergian ke India. Namun, tempat yang disebut India itu sangat jauh, pergi pun membutuhkan waktu berhari-hari. Oleh itu, harus membawa banyak beras dan miso. Karena susah, setelah berdiskusi dengan ibunya, mereka pergi ke rumah jutawan yang ada di sana untuk meminjam beras dan miso. “Kali ini, aku akan pergi untuk berdoa ke kuil megah yang belum pernah dilihat sebelumnya di India. Oleh itu, bolehkah aku meminjam beras dan miso yang dibutuhkan selama perjalanan?”
Dan jutawan pun berkata, “Tidak masalah. Tapi aku punya permintaan. Anak perempuanku sudah 3 tahun ini sakit. Kalau akan berdoa di kuil megah yang belum pernah dilihat sebelumnya di India, bolehkah doakan supaya penyakit anak perempuanku sembuh?”
“Itu bukan hal yang sulit untuk dilakukan,” maka si anak pun setelah meminjam beras dan miso, berangkat menuju India. Setelah beberapa hari berlalu, mereka sampai di satu bangunan yang megah. Pemilik bangunan itu berkata.
PS GAH! I hope it will be okay... I just checked it thrice, and because of headache, I decided to just send the damn assignment and go to sleep already. *sigh*
翻訳論:山の神と子ども(183-188ページ)
Friday, December 2, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 コメント:
Post a Comment