Nama: Paramitha Nurapriliani
NPM: 180610090065
Prodi: Sastra Jepang S1/B
1. Ringkasan cerita dan kutipan beraliran romantisme dalam Utakata no Ki (うたかたの記) karya Mori Ōgai (森鴎外).
2. Latar belakang puisi dan isi puisi Hiru no Yume (昼の夢) karya Shimazaki Tōson (島崎 藤村).
3. Ringkasan cerita dan kutipan beraliran romantisme dalam naskah drama noh modern Kantan (邯鄲) karya Mishima Yukio (三島 由紀夫).
A. CERPEN UTAKATA NO KI KARYA MORI ŌGAI
Bermula dari pertemuan Kose—seorang pemuda dan pelukis Jepang yang diajak oleh Exter ke Kafe Minerva tempat mahasiswa akademi seni rupa Munchen biasa berkumpul—dengan Marie yang kebetulan berada di situ, dan ternyata Marie adalah gadis penjual bunga violet yang pernah ia tolong 6 tahun sebelumnya ketika barang dagangannya terjatuh pada suatu peristiwa di Kafe L'Orient di Karlstrasse. Gadis ini pulalah menurut Kose yang selama ini selalu ada dalam pikirannya dan selalu ingin ia abadikan lewat lukisan, namun ia mendapat kesulitan. Dan kesulitan inilah yang membawanya untuk belajar di akademi seni rupa di Munchen tersebut.
Setelah berkenalan lebih jauh, Marie mulai menceritakan masa lalunya. Ternyata Marie berasal dari keluarga yang dekat dengan keluarga istana. Ayahnya seorang pelukis yang menjadi kesayangan Raja Bavaria waktu itu. Pada suatu jamuan makan malam di istana, ibunya dipaksa oleh raja unruk melayani nafsunya. Ayahnya berusaha mencegah tidakan tersebut hingga cedera, dan tak lama kemudian meninggal dunia. Setelah kejadian itu Marie hidup miskin bersama ibunya. Saat itulah Marie yang menjadi penjual bunga violet bertemu Kose untuk pertama kalinya. Tidak lama kemudian ibunya pun meninggal dunia. Akhirnya Marie dirawat oleh seorang tetangganya yang penjahit. Sesuatu ketika atas anjuran penjahit tersebut Marie diajak pergi oleh seorang pria setengah baya ke luar Kota Munchen. Ketika sedang naik sampan di Stanbergersee ia merasa bahaya sedang mengancam sehingga ia terjun ke danau. Beruntung ia ditolong oleh seorang nelayan miskin, Hansl, yang kemudiann menjadikannya anak angkat. Setelah itu ia bekerja sebagai pelayan orang Inggris, dan terakhir menjadi model pada sekolah seni di Munchen.
Pada suatu hari, atas ajakan Marie, mereka pergi ke Stambergesee. Sebenarnya Marie bermaksud membawa Kose ke rumah Hansl yang merupakan ayah angkatnya. Mereka tiba di danau, kemudian mereka naik sampan, namun tiba-tiba di tepi danau muncul raja dan dokter pribadinya, Gudden. Raja melihat Marie yang memang mirip ibunya dan terkejut lalu meneriakinya seraya berlari ke arah Marie yang berada di sampan. Ketika terkejut Marie jatuh ke dalam air, membentur pancang dan meninggal. Raja dan Gudden juga mati tenggelam. Kose kemudian membawa Marie ke rumah Hansl, nelayan yang pernah menolong Marie. Kose melewati malam itu dengan duduk di samping jenazah Marie bersama perempuan tua Hansl, meratapi dunia yang bagaikan buih di atas air, lenyap tanpa bekas.
1. Kutipan 1 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:21)
巨勢(こせ)は老女(ろうじょ)と屍(かばね)の傍(かたわら)に夜(よる)をとほして、消(き)えて迹(あと)なきうたかたのうたてき世(よ)を喞(かこ)ちあかしつ。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:189)
Kose melewatkan malam itu dengan duduk di samping jenazah Marie bersama perempuan tua itu, meratapi dunia yang bagaikan buih di atas air, lenyap tanpa bekas. (Buah Tangan dari Jerman: 122)
Muka tema dalam cerpen ini adalah masalah cinta yang dapat menghapuskan perbedaan latar belakang budaya serta cinta dan hidup ini hanya sementara yang bagaikan buih di atas air, lenyap tanpa bekas. Cinta di antara mereka dilandasi oleh suatu kepercayaan dan bukan karena latar belakang sosial, mengingat pada masa itu bangsa Jerman masih cenderung menganggap rendah bangsa Asia. Sang raja begitu mencintai ibu Marie yang bernama sama, Marie, membuat dirinya melupakan statusnya sebagai raja.
2. Kutipan 2 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:22)
今(いま)エキステルに(とも)伴(ともな)はれて来(こ)し人(ひと)と目(め)を合(あ)はせて、互(たがい)に驚(おどろ)きたる如(ごと)し。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:181)
Keduanya bertemu pandang dengan pemuda yang masuk bersama Exter, keduanya terlihat kaget. (Buah Tangan dari Jerman: 83)
Kutipan ini adalah peristiwa perkenalan Kose dan Marie di Kafe Minerva melalui Exter dan menjadi awal hubungan percintaan mereka.
3. Kutipan 3 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:26)
また少女(おとめ)の姿(すがた)は、初(はじ)めて逢(あ)ひし人(ひと)を動(うご)かすに余(あまり)あらむ。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:181)
Mungkin pula karena kecantikan si gadis yang memberi kesan lebih dari cukup bagi siapapun yang pertama kali bertemu dengannya. (Buah Tangan dari Jerman: 83)
Gaya bahasa yang digunakan indah dan memiliki arti tersirat bahwa kecantikan Marie membuat orang yang melihatnya terpana, meskipun baru pertama kali bertemu.
4. Kutipan 4 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:30)
日課(にっか)を畢(お)へて後(のち)は、学校(がっこう)の向(む)ひなる、「カッフェエ・ミネルワ」といふ店(みせ)に入(はい)りて、珈琲(カッフェー)のみ、酒(さけ)くみかはしなどして、おもひおもひの戯(たわぶれ)す。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:181)
Usai kuliah para mahasiswa pergi ke Kafe Minerva di seberang jalan, dan dengan gembira mengobrol sesuka hati sambil sekadar minum kopi atau minuman keras. (Buah Tangan dari Jerman: 81)
Kutipan ini menerangkan pola hidup mahasiwa-mahasiswa di Jerman di mana seusai kuliah, mereka pergi minum kopi atau bir di kafe untuk bersenang-senang. Gaya hidup royal ini termasuk ke dalam aliran romantisme di mana suka cita kehidupan menjadi salah satu cirinya.
5. Kutipan 5 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:37)
エキステルに紹介(しょうかい)せられて、随来(したがいき)ぬる男(おとこ)の近寄(ちかよ)りて会釈(えしゃく)するに、起(た)ちて名告(なの)りなどするは、外国人(とつくにびと)のみ。さらぬは坐(ざ)したるままにて答(こたえ)ふれど、侮(あなど)りたるにもあらず、この仲間(なかま)の癖(くせ)なるべし。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:184)
Karena diperkenalkan Exter dengan cara begitu, laki-laki itu melangkah ke depan dan mengangguk hormat, tetapi hanya orang-orang asing lain yang bangkit untuk memperkenalkan diri. Sedangkan yang lain tetap duduk ketika membalas hormatnya. Mereka bukan memandang rendah, itu hanya kebiasaan dalam kelompok itu. (Buah Tangan dari Jerman: 84)
Bangsa Jepang pada masa itu yang sebagian masih berpola pikir budaya timur harus bersinggungan dengan budaya barat yang sangat jauh berbeda. Baik dari segi adat kebiasaan, nilai-nilai maupun norma-normanya. Hal-hal seperti ini tersirat dengan cukup baik dalam cerpen ini melalui tokoh utamanya Kose, seorang mahasiswa Jepang yang sedang belajar di Jerman.
6. Kutipan 6 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:41)
巨勢(こせ)は熱(あつ)き手掌(たなぞこ)を、両耳(りょうじ)の上(うえ)におぼえ、驚(おどろ)く間(ま)もなく、またこれより熱(あつ)き唇(くちびる)、額(ひいたい)に触(ふ)れたり。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:184)
Kose merasakan telapak tangan Marie yang panas pada kedua telinganya, dan belum lagi hilang rasa kagetnya, bibir Marie yang membara itu sudah menjamah dahinya. (Buah Tangan dari Jerman: 91)
Kose merasakan suatu kultur shock ketika secara tiba-tiba Marie mencium keningnya di Kafe Minerva. Kutipan ini dengan jelas menonjolkan sisi romantisme antara Kose dan Marie di awal hubungan mereka. Selain itu, konflik terjadi di antara teman-teman mereka yang cemburu terhadap Kose.
7. Kutipan 7 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:65)
少女(おとめ)が話(はなし)聞(き)く間(あいだ)、巨勢(こせ)が胸(むね)には、さまざまの感情(かんじょう)戦(いくさ)ひたり。或(ある)ときはむかし別(わか)れし妹(いもうと)に逢(あ)ひたる兄(あに)の心(こころ)となり、或(ある)ときは廃園(はいえん)に僵(たお)れ伏(ふ)したるヱヌス(ゑぬす)の像(ぞう)に、独(ひとり)悩(なや)める彫工(ほりこう)の心(こころ)となり、或(あ)るときはまた艶女(えんにょ)に心(こころ)動(どう)され、われは堕(お)ちじと戒(かい)むる沙門(しゃもん)の心(こころ)ともなりしが、聞(き)きをはりし時(とき)は、胸騒(むなさわ)ぎ肉(にく)|顫(ふる)ひて、われにもあらで、少女(おとめ)が前(まえ)に跪(ひざまず)かむとしつ。少女(おとめ)はつと立(た)ちて(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:187)
Sewaktu mendengarkan gadis itu bercerita, Kose merasakan berbagai macam emosi berkecamuk di dadanya. Terkadang ia merasa seperti seorang kakak yang berjumpa dengan adik perempuannya yang lama berpisah, atau merasa seperti seorang pematung yang sangat pedih menyaksikan patung Venus roboh di taman yang tak terurus, kemudian merasa seperti pendeta yang jatuh cinta pada seorang gadis cantik tapi telah berjanji tidak akan berbuat dosa. Ketika gadis itu selesai berbicara jantung Kose berdebar-debar, dan ia gemetaran. Tanpa disadarinya, ia berusaha berlutut di depan gadis yang tiba-tiba berdiri itu. (Buah Tangan dari Jerman: 102)
Gaya bahasa yang puitis, dapat dirasakan bahwa penulis menggambarkan perasaan Kose yang dalam kepada Marie. Kose semakin menyukai Marie namun tidak kuasa untuk menunjukkannya kepada Marie. Kutipan ini menunjukkan romantisme yang lebih dalam antara Kose dan Marie.
8. Kutipan 8 (Skripsi Analisis Pengaruh Peristiwa Kematian Raja Ludwig II Terhadap Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Winia Ciptaningrum 2006:42)
来(き)し人(ひと)はこの群(ぐん)に珍(めず)らしき客(きゃく)なればにや。また少女(おとめ)の姿(すがた)は、初(はじ)めて逢(あ)ひし人(ひと)を動(うご)かすに余(あまり)あらむ。前庇(まえびさし)広(ひろ)く飾(かざ)なき帽(ぼう)を被(か)ぶりて、年(ねん)は十七(じゅうしち)、八(はち)ばかりと見(み)ゆる顔(かお)ばせ、ヱヌスの古彫像(こちょうぞう)を欺(あざむ)けり。そのふるまひには自(おのずか)ら気高(けだか)き処(ところ)ありて、かいなでの人(ひと)と覚(おぼ)えず。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:181)
Gadis itu memakai topi tanpa hiasan yang bagian depannya lebar, romannya terlihat seperti gadi yang berusia tujuh belas atau delapan belas tahun, amat mirip wajah klasik patung dewi venus. Ada keanggunan dalam gerak-geriknya, sesuatu yang melebihi orang biasa. (Buah Tangan dari Jerman: 83)
Tokoh Marie digambarkan dengan pengandaian yang indah, mirip patung dewi venus. Pembawaannya pun tidak seperti kaum jelata karena Marie dibesarkan di lingkungan kerajaan.
B. PUISI HIRU NO YUME KARYA SHIMAZAKI TŌSON
昼の夢
花橘の袖(そで)の香(かおり)の
みめうるはしきおとめごは
真昼(まっぴる)に夢を見てしより
さめて忘(わす)るゝ(るくりかえし)夜のならひ
白日(まひる)の夢のなぞもかく
忘れがたくはありけるものか
ゆめと知りせばなまなかに
さめざらましを世に出でて
うらわかぐさのうらわかみ
何をか夢の名残(なごり)ぞと
問(とい)はば答(こたえ)へむ目さめては
熱(あつ)き涙(なみだ)のかわく間もなし
Mimpi di Siang Hari
Dalam dekapan aroma bunga Tachibana
gadis cantik
bermimpi di siang hari
Mimpi malam hari akan terlupakan bila
terjaga, namun mimpi di siang hari
begitu sulit dilupakan
Bila tahu itu mimpi
mengambang dalam keadaan belum terjaga
tunas rumput yang masih muda muncul keluar
Apakah maksud mimpi itu?
akan kujawab pertanyaan itu di mataku yang terjaga
air mataku tak pernah kering
Puisi Hiru no Yume '昼の夢' ini temanya masih diwarnai oleh romantisme. Kisah-kisah cinta Tōson yang diungkapkan melalui puisi-puisinya sebagian besar bercerita tentang kesedihan dan penderitaan. Demikian juga dengan puisi Hiru no Yume ini yang mengandung tema 'perpisahan dua orang kekasih yang akhirnya membawa penderitaan bagi keduanya'.
花橘の袖の香の
みめうるはしきおとめごは
真昼に夢を見てしより
Dalam dekapan aroma bunga Tachibana
gadis cantik
bermimpi di siang hari
Baris pertama sampai baris ketiga ini bercerita tentang gadis muda yang dicintai oleh penyair. Penyair mengungkapkan bahwa gadis ini masih muda dan cantik, dia dilambangkan dengan bunga Tachibana '橘' atau yang biasa disebut wild orange. Sesuai dengan namanya bunga ini adalah sejenis bunga liar yang berwarna oranye. Gadis muda yang diceritakan oleh penyair dalam puisinya ini adalah gadis yang ingin menikmati masa mudanya dengan melakukan apa yang dia suka. Gadis ini juga suka bermimpi yang indah-indah, walaupun dia tahu mimpi-mimpi itu tidak akan menjadi kenyataan. Hiru no yume 'mappiru ni yume wo mi真昼に夢を見' atau mimpi di siang hari melambangkan sesuatu yang semu yang selalu didambakan oleh gadis muda itu.
さめて忘るゝ夜のならひ
白日(まひる)の夢のなぞもかく
忘れがたくはありけるものか
Mimpi malam hari akan terlupakan bila
terjaga, namun mimpi di siang hari
begitu sulit dilupakan
Mimpi malam hari 'yoru no narahi夜のならひ' melambangkan kenangan-kenangan sedih sehingga dikatakan mudah saja untuk melupakannya. Sedangkan mimpi siang hari 'mahiru no yume白日の夢' melambangkan kenangan-kenangan yang indah tapi semu. Si gadis muda ingin terus bermimpi walaupun dia tahu itu hanya sesuatu yang semu, karena mimpi-mimpi atau kenangan-kenangan itu mendatangkan kebahagiaan baginya.
ゆめと知りせばなまなかに
さめざらましを世に出でて
Bila tahu itu mimpi
mengambang dalam keadaan belum terjaga
Sepasang kekasih yang masih muda ini menyadari tidak ada gunanya meneruskan mimpi-mimpi yang tidak akan jadi kenyataan walaupun mimpi-mimpi itu indah dan kisah cinta mereka begitu manis, mereka menyadari bahwa mereka masih terlalu muda. Tidak ada yang bisa mereka harapkan dari hubungan cinta mereka. Penyair dan gadis muda yang adalah kekasihnya mulai terjaga dari mimpi-mimpi mereka, karena mereka menyadari itu hanya keegoisan anak muda belaka.
うらわかぐさのうらわかみ
Tunas rumput yang masih muda muncul keluar
Tunas rumput yang masih muda 'うらわかぐさ' melambangkan diri penyair dan gadis muda tersebut dikatakan bahwa mereka adalah anak-anak muda yang baru muncul ke dunia dan mereka belum tahu apa yang mereka hadapi, mereka tidak menyadari bahwa banyak kesulitan-kesulitan yang akan mereka hadapi ketika mereka hidup di dunia yang kejam.
何をか夢の名残ぞと
問はば答へむ目さめては
熱き涙のかわく間もなし
Apakah maksud mimpi itu?
akan kujawab pertanyaan itu di mataku yang terjaga
air mataku tak pernah kering
Di saat mereka terjaga dari mimpi-mimpi yang semu, mereka tahu tidak ada lagi yang tersisa bagi mereka. Mereka harus berani menghadapi kenyataan yang sesungguhnya yaitu perpisahan. Karena inilah satu-satunya jalan bagi mereka, hubungan cinta mereka hanya dibangun oleh mimpi-mimpi masa muda yang semu dengan segala keegoisan mereka.
Apakah maksud mimpi itu? '何をか夢の名残ぞと' pertanyaan ini hadir setelah mereka tahu apa yang ada di dunia ini bukan hanya yang indah saja, tetapi ada juga kenyataan yang pahit yang harus mereka hadapi. Perpisahan begitu berat bagi mereka berdua, terlebih lagi bagi penyair. Hal ini digambarkan dalam baris terakhir 'air mataku tak pernah kering' '熱き涙のかわく間もなし' penyair merasa hatinya hancur karena cinta yang selama ini diagung-agungkannya harus dia lenyapkan dan gadis yang sangat dicintainya tak akan lagi ada di sisinya. Penyair hanya bisa menangis dan terus menangis.
Tema tentang kegagalan cinta yang terdapat dalam puisi 'Saling Cinta', 'Nyanyian Musim Semi', 'Mimpi di Siang Hari', dan 'Malam Musim Panas' menceritakan kegagalan cinta Tōson dengan seorang gadis bernama Sueko, seorang siswi Meiji Jogakkou dimana ia mengajar. Karena keluarganya dan guru yang lain menentang habis-habisan, hubungan cinta mereka harus berakhir.
C. TEKS DRAMA NOH MODERN KANTAN KARYA MISHIMA YUKIO
Di sebuah desa terpencil tinggallah Kiku seorang janda yang ditinggal pergi suaminya berkelana. Kiku masih tetap menyusun kamarnya dengan hiasan-hiasan kertas yang digantungkan dari langit-langit seperti kamar Jiro dulu, seorang anak yang pernah diasuhnya ketika masih bayi, karena tidak ingin melupakan Jiro. Kini, mereka sudah 10 tahun berpisah.
Suatu hari Jiro yang saat itu berusia 18 tahun datang ke rumah Kiku karena mendengar Kiku memiliki bantal ajaib. Namun karena bantal itulah suami Kiku pergi menghilang untuk berkelana. Bantal itu berasal dari Kota Kantan, sebuah negeri di Cina yang berpindah tangan secara turun temurun hingga menjadi barang pusaka keluarga Kiku. Jiro sudah lama tidak bersekolah lagi dan telah menyadari bahwa hidupnya sebentar lagi akan berakhir. Jiro ingin membuktikan bahwa bantal itu tidak akan mengakibatkan apa-apa terhadap dirinya.
Dalam mimpinya, Jiro dihampiri oleh perempuan cantik, penari-penari telanjang, sekretaris pribadi Jiro, dua orang yang memakai kedok pria berusia lanjut yang mengaku sebagai pelayannya, dan seorang dokter. Jiro bingung mengapa mereka berkumpul di sekelilingnya. Cerita berlanjut sampai akhirnya Jiro mengatakan bahwa ia tidak mau mati saat disuruh minum racun. Ternyata mereka semua yang muncul dalam mimpi Jiro adalah Roh Kota Kantan. Dalam aturan mereka setiap orang yang meniduri bantal itu harus memperoleh penerangan. Bantal itu membantu menyadarkan kepada manusia tentang kesia-siaan hidup manusia. Pada akhirnya Jiro menceritakan mimpinya kepada Kiku dan memutuskan untuk menetap bersama kiku sampai ajalnya.
1. Kutipan 1 (Skripsi Jalan Kematian dan Kesetiaan Sebagai Kode Etik Bushidou Melalui Simbolisme Tokoh Shite dan Shite Tsure dalam Teks Drama Noh Modern 'Kantan' Karya Mishima Yukio oleh Sony Tatar Kristiono 2002:45)
Jiro menolak wanita cantik yang datang di dalam mimpinya karena tidak menyukainya. Namun setelah ada tawar-menawar, Si Cantik sanggup menjadi isteri Jiro yang setia dan tidak cemburu dan ia menerima apa saja asal Jiro mau menjadi suaminya.
美女(びじょ)「次郎(じろう)さん、代(か)わりにあたくしを捨(す)てないで。」
次郎(じろう)「君(きみ)が忠実(ちゅうじつ)な奥(おく)さんにならばね。」
美女(びじょ)「なれてよ。なんでもしてよ。お雑巾(ぞうきん)がけでも、お掃除(そうじ)でもつくるいものでもなんでもしてよ。あなたが裸(はだか)になって街(まち)を歩(ある)けと仰言(おっしゃ)れば、それでもしてよ。」
次郎(じろう)「よしよしいい覚悟(かくご)だ。まず第一(だいいち)に決(けっ)してやきもちを焼(や)かないと。」
美女(びじょ)「ええ、あたくし我慢(がまん)するわ。あたくし何(なん)でも我慢(がまん)してよ。」(邯鄲(かんたん):29)
Si Cantik: Sebagai imbalan, jangan kau tinggalkan aku, Jiro.
Jiro: Hanya bila engkau isteriku yang setia.
Si Cantik: Pastilah! Segala-galanya akan kulakukan. Aku akan menyapu lantai, mengepelnya, mencuci pakaianmu, segala-galanya. Sekiranya engkau menyuruh aku berjalan telanjang di luar, akan kulakukan juga.
Jiro: Bagus, bagus, suatu persiapan yang baik. Pertama-tama engkau sama sekali tidak boleh cemburu.
Si Cantik: Baiklah, aku akan bersabar, aku akan bersabar terhadap apapun.
Dengan bersedia melakukan segala hal untuk Jiro, bahkan bertelanjang di depan orang lain, hal ini menunjukkan Si Cantik tidak peduli dengan kenyataan bahwa hal tersebut dapat menurunkan martabatnya. Meskipun hal ini hanya terjadi di dalam mimpi, namun keadaan tersebut menunjukkan ciri aliran romantisme.
2. Kutipan 2 (Skripsi Jalan Kematian dan Kesetiaan Sebagai Kode Etik Bushidou Melalui Simbolisme Tokoh Shite dan Shite Tsure dalam Teks Drama Noh Modern 'Kantan' Karya Mishima Yukio oleh Sony Tatar Kristiono 2002:58)
Kiku merasa hidupnya telah mati ketika ia tidak lagi mengabdi kepada tuannya Jiro. Namun setelah Jiro memutuskan untuk tidak pergi berkelana seperti suaminya dulu dan memutuskan untuk tinggal bersama-sama dengannya, Kiku sangat bahagia dan merasa seolah-olah hidupnya kembali seperti dulu. Di taman terdengar ramai kicauan burung, dan bersamaan dengan itu tanaman-tanaman yang sebelumnya tak memekarkan bunganya tiba-tiba bermekaran di sana-sini.
次郎(じろう)「菊(きく)やそれがほんとうだよ。つまり菊(きく)やは生(い)きるんだよ。」
菊(きく)「お坊(ぼっ)ちゃま、それではあなたさまだけは菊(きく)を見捨(みす)てずに、ここにずっとおいで下(くだ)さいますか。」
次郎(じろう)「いるとも。ここにずっといるよ。いてもいいかい。」
菊(きく)「ああ、うれしい。この部屋(へや)が役(やく)に立(た)ちました。菊(きく)はまたお坊(ぼっ)ちゃまと二人(ふたり)だけでいられると思(おも)いますと、ああ、うれしい。また十年前(じゅうねんまえ)の自分(じぶん)がかえってくるようでございますわ。」
次郎(じろう)「僕(ぼく)はずっとここにいるんだ。もしかすると死(し)ねまでいるよ。」(邯鄲(かんたん):50)
Jiro: Perasaan itu betul, Kiku... Engkau hidup.
Kiku: Tuan muda, benar-benarkah anda akan tinggal di sini selama-lamanya dan tidak akan meninggalkan saya?
Jiro: Betul. Sepanjang waktu engkau tidak keberatan bukan?
Kiku: Betapa bahagianya saya. Akhirnya ternyata kamar ini ada gunanya. Tuan muda, hanyalah kita berdua. Rasa-rasanya seolah Kiku yang 10 tahun yang lalu kembali hidup.
Jiro: Saya akan tetap di sini sepanjang waktu. Mungkin sampai ajalku.
Setelah mimpinya berakhir, Jiro memutuskan untuk tinggal bersama Kiku. Kiku, yang sangat menyayangi tuan mudanya itu merasa sangat gembira dapat tinggal bersama anak asuhnya yang sangat dia sayangi. Meskipun kasih sayang mereka bukan antara sepasang kekasih, hal ini masih termasuk aliran romantisme dari temanya tentang kasih sayang dan bahasanya yang menyentuh hati.
3. Kutipan 3 (Skripsi Jalan Kematian dan Kesetiaan Sebagai Kode Etik Bushidou Melalui Simbolisme Tokoh Shite dan Shite Tsure dalam Teks Drama Noh Modern 'Kantan' Karya Mishima Yukio oleh Sony Tatar Kristiono 2002:63)
Dalam kurun waktu yang hanya beberapa jam saja cerita ini diakhiri pada saat hari sudah pagi dan burung-burung berkicauan di luar. Pada saat-saat seperti ini orang biasa bangun tidur dan bersiap-siap sarapan pagi dan menikmati indahnya hari yang baru. Bunga-bunga yang berkembang, burung-burung berkicauan dan matahari yang bersinar cerah mengisyaratkan datangnya musim semi.
次郎(じろう)「やあきれいだ、菊(きく)や、庭(にわ)じゅうの花(ばな)が咲(さ)いた。」(邯鄲(かんたん):51)
Jiro: Oh, alangkah indahnya. Kiku, bunga-bunga bermekaran di taman.
Keindahan musim semi dapat digambarkan dengan indah seperti dalam kutipan yaitu bunga-bunga yang bermekaran. Kutipan ini menyinggung aliran naturalism yang dekat dengan alam, namun karena bahasanya yang spontan dan langsung membuat pembacanya dapat merasakan indahnya musim semi setelah segala kesulitan hidup yang dialami Jiro dan Kiku, kutipan ini dapat menjadi ciri aliran romantisme dalam naskah drama Kantan.
KESIMPULAN DAN SARAN
- Ciri-ciri karya sastra yang beraliran romantisme adalah penggunaan gaya bahasa yang indah dalam mendeskripsikan atau menggambarkan sesuatu, umumnya bertemakan kasih sayang dan cinta, obsesi terhadap sesuatu yang berlebihan, dan suka cita kehidupan dengan gaya hidup royal.
- Cerpen Utakata no Ki karya Mori Ōgai dan puisi Hiru no Yume karya Shimazaki Tōson sangat dipengaruhi oleh aliran romantisme yang ditonjolkan dengan temanya mengenai percintaan, meskipun tidak berakhir dengan bahagia. Bahasa yang dipakai puitis dan mencerminkan perasaan pengarang yang dalam terhadap karyanya tersebut, misalnya puisi Hiru no Yume yang dibuat berdasarkan rasa patah hati karena harus berpisah dengan wanita yang dicintai oleh Mori Ōgai.
- Naskah drama noh modern Kantan karya Mishima Yukio secara keseluruhan tidak termasuk aliran romantisme, namun lebih cenderung kepada aliran shirakaba/humanisme yang dibumbui oleh eksistensi manusia dan roh. Namun di dalamnya terdapat beberapa kutipan minor yang termasuk aliran romantisme.
DAFTAR PUSTAKA
- Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005: 21, 22, 26, 30, 37, 41, 65.
- Analisis Pengaruh Peristiwa Kematian Raja Ludwig II Terhadap Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Winia Ciptaningrum 2006: 42.
- Analisis Tema Puisi-Puisi Lirik Karya Shimazaki Tōson dalam Kumpulan Puisi Wakanashuu oleh Ramona Napitupulu 2002: 64.
- Jalan Kematian dan Kesetiaan Sebagai Kode Etik Bushidou Melalui Simbolisme Tokoh Shite dan Shite Tsure dalam Teks Drama Noh Modern 'Kantan' Karya Mishima Yukio oleh Sony Tatar Kristiono 2002: 26, 45, 58, 63.