skip to main | skip to sidebar

ようこそ。。。

My Photo
パラミタ
Bandung, West Java, Indonesia
Avatar credit: anjichan @ LJ.
View my complete profile

ラベル

  • 順中級会話 (1)
  • driving lesson (2)
  • guiding (2)
  • Junjokyu Nihongo (3)
  • kewirausahaan (2)
  • KKNM (1)
  • Quiz (6)
  • TBI (1)
  • 会話 (1)
  • 会話LL (1)
  • 作文 (2)
  • 初級会話 (6)
  • 実践会話 (1)
  • 実践会話LL (1)
  • 宿題 (18)
  • 日本文学入門 (1)
  • 日本文学概論 (1)
  • 日本語学 (3)
  • 日記 (2)
  • 翻訳論 (1)
  • 順中級会話 (15)

思い出す。。。

  • August 2013 (2)
  • May 2013 (1)
  • April 2013 (1)
  • February 2013 (1)
  • December 2012 (4)
  • October 2012 (1)
  • September 2012 (1)
  • June 2012 (2)
  • April 2012 (2)
  • March 2012 (2)
  • February 2012 (1)
  • January 2012 (1)
  • December 2011 (2)
  • October 2011 (1)
  • September 2011 (1)
  • May 2011 (5)
  • April 2011 (2)
  • March 2011 (3)
  • January 2011 (1)
  • November 2010 (1)
  • October 2010 (3)
  • September 2010 (1)
  • June 2010 (19)

リンクス

  • Facebook
  • LiveJournal

友達

Plurk

Plurk.com

Questioning My Sanity

Some posts about school stuff...

Pengaruh aliran romantisme dalam kesusastraan jepang ditinjau dari prosa, puisi, dan naskah drama

Sunday, April 22, 2012


Nama: Paramitha Nurapriliani
NPM: 180610090065
Prodi: Sastra Jepang S1/B


1. Ringkasan cerita dan kutipan beraliran romantisme dalam Utakata no Ki (うたかたの記) karya Mori Ōgai (森鴎外).
2. Latar belakang puisi dan isi puisi Hiru no Yume (昼の夢) karya Shimazaki Tōson (島崎 藤村).
3. Ringkasan cerita dan kutipan beraliran romantisme dalam naskah drama noh modern Kantan (邯鄲) karya Mishima Yukio (三島 由紀夫).

A. CERPEN UTAKATA NO KI KARYA MORI ŌGAI
Bermula dari pertemuan Kose—seorang pemuda dan pelukis Jepang yang diajak oleh Exter ke Kafe Minerva tempat mahasiswa akademi seni rupa Munchen biasa berkumpul—dengan Marie yang kebetulan berada di situ, dan ternyata Marie adalah gadis penjual bunga violet yang pernah ia tolong 6 tahun sebelumnya ketika barang dagangannya terjatuh pada suatu peristiwa di Kafe L'Orient di Karlstrasse. Gadis ini pulalah menurut Kose yang selama ini selalu ada dalam pikirannya dan selalu ingin ia abadikan lewat lukisan, namun ia mendapat kesulitan. Dan kesulitan inilah yang membawanya untuk belajar di akademi seni rupa di Munchen tersebut.
Setelah berkenalan lebih jauh, Marie mulai menceritakan masa lalunya. Ternyata Marie berasal dari keluarga yang dekat dengan keluarga istana. Ayahnya seorang pelukis yang menjadi kesayangan Raja Bavaria waktu itu. Pada suatu jamuan makan malam di istana, ibunya dipaksa oleh raja unruk melayani nafsunya. Ayahnya berusaha mencegah tidakan tersebut hingga cedera, dan tak lama kemudian meninggal dunia. Setelah kejadian itu Marie hidup miskin bersama ibunya. Saat itulah Marie yang menjadi penjual bunga violet bertemu Kose untuk pertama kalinya. Tidak lama kemudian ibunya pun meninggal dunia. Akhirnya Marie dirawat oleh seorang tetangganya yang penjahit. Sesuatu ketika atas anjuran penjahit tersebut Marie diajak pergi oleh seorang pria setengah baya ke luar Kota Munchen. Ketika sedang naik sampan di Stanbergersee ia merasa bahaya sedang mengancam sehingga ia terjun ke danau. Beruntung ia ditolong oleh seorang nelayan miskin, Hansl, yang kemudiann menjadikannya anak angkat. Setelah itu ia bekerja sebagai pelayan orang Inggris, dan terakhir menjadi model pada sekolah seni di Munchen.
Pada suatu hari, atas ajakan Marie, mereka pergi ke Stambergesee. Sebenarnya Marie bermaksud membawa Kose ke rumah Hansl yang merupakan ayah angkatnya. Mereka tiba di danau, kemudian mereka naik sampan, namun tiba-tiba di tepi danau muncul raja dan dokter pribadinya, Gudden. Raja melihat Marie yang memang mirip ibunya dan terkejut lalu meneriakinya seraya berlari ke arah Marie yang berada di sampan. Ketika terkejut Marie jatuh ke dalam air, membentur pancang dan meninggal. Raja dan Gudden juga mati tenggelam. Kose kemudian membawa Marie ke rumah Hansl, nelayan yang pernah menolong Marie. Kose melewati malam itu dengan duduk di samping jenazah Marie bersama perempuan tua Hansl, meratapi dunia yang bagaikan buih di atas air, lenyap tanpa bekas.

1. Kutipan 1 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:21)
巨勢(こせ)は老女(ろうじょ)と屍(かばね)の傍(かたわら)に夜(よる)をとほして、消(き)えて迹(あと)なきうたかたのうたてき世(よ)を喞(かこ)ちあかしつ。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:189)
Kose melewatkan malam itu dengan duduk di samping jenazah Marie bersama perempuan tua itu, meratapi dunia yang bagaikan buih di atas air, lenyap tanpa bekas. (Buah Tangan dari Jerman: 122)
Muka tema dalam cerpen ini adalah masalah cinta yang dapat menghapuskan perbedaan latar belakang budaya serta cinta dan hidup ini hanya sementara yang bagaikan buih di atas air, lenyap tanpa bekas. Cinta di antara mereka dilandasi oleh suatu kepercayaan dan bukan karena latar belakang sosial, mengingat pada masa itu bangsa Jerman masih cenderung menganggap rendah bangsa Asia. Sang raja begitu mencintai ibu Marie yang bernama sama, Marie, membuat dirinya melupakan statusnya sebagai raja.

2. Kutipan 2 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:22)
今(いま)エキステルに(とも)伴(ともな)はれて来(こ)し人(ひと)と目(め)を合(あ)はせて、互(たがい)に驚(おどろ)きたる如(ごと)し。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:181)
Keduanya bertemu pandang dengan pemuda yang masuk bersama Exter, keduanya terlihat kaget. (Buah Tangan dari Jerman: 83)
Kutipan ini adalah peristiwa perkenalan Kose dan Marie di Kafe Minerva melalui Exter dan menjadi awal hubungan percintaan mereka.

3. Kutipan 3 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:26)
また少女(おとめ)の姿(すがた)は、初(はじ)めて逢(あ)ひし人(ひと)を動(うご)かすに余(あまり)あらむ。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:181)
Mungkin pula karena kecantikan si gadis yang memberi kesan lebih dari cukup bagi siapapun yang pertama kali bertemu dengannya. (Buah Tangan dari Jerman: 83)
Gaya bahasa yang digunakan indah dan memiliki arti tersirat bahwa kecantikan Marie membuat orang yang melihatnya terpana, meskipun baru pertama kali bertemu.

4. Kutipan 4 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:30)
日課(にっか)を畢(お)へて後(のち)は、学校(がっこう)の向(む)ひなる、「カッフェエ・ミネルワ」といふ店(みせ)に入(はい)りて、珈琲(カッフェー)のみ、酒(さけ)くみかはしなどして、おもひおもひの戯(たわぶれ)す。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:181)
Usai kuliah para mahasiswa pergi ke Kafe Minerva di seberang jalan, dan dengan gembira mengobrol sesuka hati sambil sekadar minum kopi atau minuman keras. (Buah Tangan dari Jerman: 81)
Kutipan ini menerangkan pola hidup mahasiwa-mahasiswa di Jerman di mana seusai kuliah, mereka pergi minum kopi atau bir di kafe untuk bersenang-senang. Gaya hidup royal ini termasuk ke dalam aliran romantisme di mana suka cita kehidupan menjadi salah satu cirinya.

5. Kutipan 5 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:37)
エキステルに紹介(しょうかい)せられて、随来(したがいき)ぬる男(おとこ)の近寄(ちかよ)りて会釈(えしゃく)するに、起(た)ちて名告(なの)りなどするは、外国人(とつくにびと)のみ。さらぬは坐(ざ)したるままにて答(こたえ)ふれど、侮(あなど)りたるにもあらず、この仲間(なかま)の癖(くせ)なるべし。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:184)
Karena diperkenalkan Exter dengan cara begitu, laki-laki itu melangkah ke depan dan mengangguk hormat, tetapi hanya orang-orang asing lain yang bangkit untuk memperkenalkan diri. Sedangkan yang lain tetap duduk ketika membalas hormatnya. Mereka bukan memandang rendah, itu hanya kebiasaan dalam kelompok itu. (Buah Tangan dari Jerman: 84)
Bangsa Jepang pada masa itu yang sebagian masih berpola pikir budaya timur harus bersinggungan dengan budaya barat yang sangat jauh berbeda. Baik dari segi adat kebiasaan, nilai-nilai maupun norma-normanya. Hal-hal seperti ini tersirat dengan cukup baik dalam cerpen ini melalui tokoh utamanya Kose, seorang mahasiswa Jepang yang sedang belajar di Jerman.

6. Kutipan 6 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:41)
巨勢(こせ)は熱(あつ)き手掌(たなぞこ)を、両耳(りょうじ)の上(うえ)におぼえ、驚(おどろ)く間(ま)もなく、またこれより熱(あつ)き唇(くちびる)、額(ひいたい)に触(ふ)れたり。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:184)
Kose merasakan telapak tangan Marie yang panas pada kedua telinganya, dan belum lagi hilang rasa kagetnya, bibir Marie yang membara itu sudah menjamah dahinya. (Buah Tangan dari Jerman: 91)
Kose merasakan suatu kultur shock ketika secara tiba-tiba Marie mencium keningnya di Kafe Minerva. Kutipan ini dengan jelas menonjolkan sisi romantisme antara Kose dan Marie di awal hubungan mereka. Selain itu, konflik terjadi di antara teman-teman mereka yang cemburu terhadap Kose.

7. Kutipan 7 (Skripsi Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005:65)
少女(おとめ)が話(はなし)聞(き)く間(あいだ)、巨勢(こせ)が胸(むね)には、さまざまの感情(かんじょう)戦(いくさ)ひたり。或(ある)ときはむかし別(わか)れし妹(いもうと)に逢(あ)ひたる兄(あに)の心(こころ)となり、或(ある)ときは廃園(はいえん)に僵(たお)れ伏(ふ)したるヱヌス(ゑぬす)の像(ぞう)に、独(ひとり)悩(なや)める彫工(ほりこう)の心(こころ)となり、或(あ)るときはまた艶女(えんにょ)に心(こころ)動(どう)され、われは堕(お)ちじと戒(かい)むる沙門(しゃもん)の心(こころ)ともなりしが、聞(き)きをはりし時(とき)は、胸騒(むなさわ)ぎ肉(にく)|顫(ふる)ひて、われにもあらで、少女(おとめ)が前(まえ)に跪(ひざまず)かむとしつ。少女(おとめ)はつと立(た)ちて(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:187)
Sewaktu mendengarkan gadis itu bercerita, Kose merasakan berbagai macam emosi berkecamuk di dadanya. Terkadang ia merasa seperti seorang kakak yang berjumpa dengan adik perempuannya yang lama berpisah, atau merasa seperti seorang pematung yang sangat pedih menyaksikan patung Venus roboh di taman yang tak terurus, kemudian merasa seperti pendeta yang jatuh cinta pada seorang gadis cantik tapi telah berjanji tidak akan berbuat dosa. Ketika gadis itu selesai berbicara jantung Kose berdebar-debar, dan ia gemetaran. Tanpa disadarinya, ia berusaha berlutut di depan gadis yang tiba-tiba berdiri itu. (Buah Tangan dari Jerman: 102)
Gaya bahasa yang puitis, dapat dirasakan bahwa penulis menggambarkan perasaan Kose yang dalam kepada Marie. Kose semakin menyukai Marie namun tidak kuasa untuk menunjukkannya kepada Marie. Kutipan ini menunjukkan romantisme yang lebih dalam antara Kose dan Marie.

8. Kutipan 8 (Skripsi Analisis Pengaruh Peristiwa Kematian Raja Ludwig II Terhadap Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Winia Ciptaningrum 2006:42)
来(き)し人(ひと)はこの群(ぐん)に珍(めず)らしき客(きゃく)なればにや。また少女(おとめ)の姿(すがた)は、初(はじ)めて逢(あ)ひし人(ひと)を動(うご)かすに余(あまり)あらむ。前庇(まえびさし)広(ひろ)く飾(かざ)なき帽(ぼう)を被(か)ぶりて、年(ねん)は十七(じゅうしち)、八(はち)ばかりと見(み)ゆる顔(かお)ばせ、ヱヌスの古彫像(こちょうぞう)を欺(あざむ)けり。そのふるまひには自(おのずか)ら気高(けだか)き処(ところ)ありて、かいなでの人(ひと)と覚(おぼ)えず。(日本文学全集(にほんぶんがくぜんしゅう)7:181)
Gadis itu memakai topi tanpa hiasan yang bagian depannya lebar, romannya terlihat seperti gadi yang berusia tujuh belas atau delapan belas tahun, amat mirip wajah klasik patung dewi venus. Ada keanggunan dalam gerak-geriknya, sesuatu yang melebihi orang biasa. (Buah Tangan dari Jerman: 83)
Tokoh Marie digambarkan dengan pengandaian yang indah, mirip patung dewi venus. Pembawaannya pun tidak seperti kaum jelata karena Marie dibesarkan di lingkungan kerajaan.

B. PUISI HIRU NO YUME KARYA SHIMAZAKI TŌSON

昼の夢

花橘の袖(そで)の香(かおり)の
みめうるはしきおとめごは
真昼(まっぴる)に夢を見てしより
さめて忘(わす)るゝ(るくりかえし)夜のならひ
白日(まひる)の夢のなぞもかく
忘れがたくはありけるものか

ゆめと知りせばなまなかに
さめざらましを世に出でて
うらわかぐさのうらわかみ
何をか夢の名残(なごり)ぞと
問(とい)はば答(こたえ)へむ目さめては
熱(あつ)き涙(なみだ)のかわく間もなし

Mimpi di Siang Hari

Dalam dekapan aroma bunga Tachibana
gadis cantik
bermimpi di siang hari
Mimpi malam hari akan terlupakan bila
terjaga, namun mimpi di siang hari
begitu sulit dilupakan

Bila tahu itu mimpi
mengambang dalam keadaan belum terjaga
tunas rumput yang masih muda muncul keluar
Apakah maksud mimpi itu?
akan kujawab pertanyaan itu di mataku yang terjaga
air mataku tak pernah kering

Puisi Hiru no Yume '昼の夢' ini temanya masih diwarnai oleh romantisme. Kisah-kisah cinta Tōson yang diungkapkan melalui puisi-puisinya sebagian besar bercerita tentang kesedihan dan penderitaan. Demikian juga dengan puisi Hiru no Yume ini yang mengandung tema 'perpisahan dua orang kekasih yang akhirnya membawa penderitaan bagi keduanya'.

花橘の袖の香の
みめうるはしきおとめごは
真昼に夢を見てしより
Dalam dekapan aroma bunga Tachibana
gadis cantik
bermimpi di siang hari

Baris pertama sampai baris ketiga ini bercerita tentang gadis muda yang dicintai oleh penyair. Penyair mengungkapkan bahwa gadis ini masih muda dan cantik, dia dilambangkan dengan bunga Tachibana '橘' atau yang biasa disebut wild orange. Sesuai dengan namanya bunga ini adalah sejenis bunga liar yang berwarna oranye. Gadis muda yang diceritakan oleh penyair dalam puisinya ini adalah gadis yang ingin menikmati masa mudanya dengan melakukan apa yang dia suka. Gadis ini juga suka bermimpi yang indah-indah, walaupun dia tahu mimpi-mimpi itu tidak akan menjadi kenyataan. Hiru no yume 'mappiru ni yume wo mi真昼に夢を見' atau mimpi di siang hari melambangkan sesuatu yang semu yang selalu didambakan oleh gadis muda itu.

さめて忘るゝ夜のならひ
白日(まひる)の夢のなぞもかく
忘れがたくはありけるものか
Mimpi malam hari akan terlupakan bila
terjaga, namun mimpi di siang hari
begitu sulit dilupakan

Mimpi malam hari 'yoru no narahi夜のならひ' melambangkan kenangan-kenangan sedih sehingga dikatakan mudah saja untuk melupakannya. Sedangkan mimpi siang hari 'mahiru no yume白日の夢' melambangkan kenangan-kenangan yang indah tapi semu. Si gadis muda ingin terus bermimpi walaupun dia tahu itu hanya sesuatu yang semu, karena mimpi-mimpi atau kenangan-kenangan itu mendatangkan kebahagiaan baginya.

ゆめと知りせばなまなかに
さめざらましを世に出でて
Bila tahu itu mimpi
mengambang dalam keadaan belum terjaga

Sepasang kekasih yang masih muda ini menyadari tidak ada gunanya meneruskan mimpi-mimpi yang tidak akan jadi kenyataan walaupun mimpi-mimpi itu indah dan kisah cinta mereka begitu manis, mereka menyadari bahwa mereka masih terlalu muda. Tidak ada yang bisa mereka harapkan dari hubungan cinta mereka. Penyair dan gadis muda yang adalah kekasihnya mulai terjaga dari mimpi-mimpi mereka, karena mereka menyadari itu hanya keegoisan anak muda belaka.

うらわかぐさのうらわかみ
Tunas rumput yang masih muda muncul keluar

Tunas rumput yang masih muda 'うらわかぐさ' melambangkan diri penyair dan gadis muda tersebut dikatakan bahwa mereka adalah anak-anak muda yang baru muncul ke dunia dan mereka belum tahu apa yang mereka hadapi, mereka tidak menyadari bahwa banyak kesulitan-kesulitan yang akan mereka hadapi ketika mereka hidup di dunia yang kejam.

何をか夢の名残ぞと
問はば答へむ目さめては
熱き涙のかわく間もなし
Apakah maksud mimpi itu?
akan kujawab pertanyaan itu di mataku yang terjaga
air mataku tak pernah kering

Di saat mereka terjaga dari mimpi-mimpi yang semu, mereka tahu tidak ada lagi yang tersisa bagi mereka. Mereka harus berani menghadapi kenyataan yang sesungguhnya yaitu perpisahan. Karena inilah satu-satunya jalan bagi mereka, hubungan cinta mereka hanya dibangun oleh mimpi-mimpi masa muda yang semu dengan segala keegoisan mereka.
Apakah maksud mimpi itu? '何をか夢の名残ぞと' pertanyaan ini hadir setelah mereka tahu apa yang ada di dunia ini bukan hanya yang indah saja, tetapi ada juga kenyataan yang pahit yang harus mereka hadapi. Perpisahan begitu berat bagi mereka berdua, terlebih lagi bagi penyair. Hal ini digambarkan dalam baris terakhir 'air mataku tak pernah kering' '熱き涙のかわく間もなし' penyair merasa hatinya hancur karena cinta yang selama ini diagung-agungkannya harus dia lenyapkan dan gadis yang sangat dicintainya tak akan lagi ada di sisinya. Penyair hanya bisa menangis dan terus menangis.

Tema tentang kegagalan cinta yang terdapat dalam puisi 'Saling Cinta', 'Nyanyian Musim Semi', 'Mimpi di Siang Hari', dan 'Malam Musim Panas' menceritakan kegagalan cinta Tōson dengan seorang gadis bernama Sueko, seorang siswi Meiji Jogakkou dimana ia mengajar. Karena keluarganya dan guru yang lain menentang habis-habisan, hubungan cinta mereka harus berakhir.

C. TEKS DRAMA NOH MODERN KANTAN KARYA MISHIMA YUKIO

Di sebuah desa terpencil tinggallah Kiku seorang janda yang ditinggal pergi suaminya berkelana. Kiku masih tetap menyusun kamarnya dengan hiasan-hiasan kertas yang digantungkan dari langit-langit seperti kamar Jiro dulu, seorang anak yang pernah diasuhnya ketika masih bayi, karena tidak ingin melupakan Jiro. Kini, mereka sudah 10 tahun berpisah.
Suatu hari Jiro yang saat itu berusia 18 tahun datang ke rumah Kiku karena mendengar Kiku memiliki bantal ajaib. Namun karena bantal itulah suami Kiku pergi menghilang untuk berkelana. Bantal itu berasal dari Kota Kantan, sebuah negeri di Cina yang berpindah tangan secara turun temurun hingga menjadi barang pusaka keluarga Kiku. Jiro sudah lama tidak bersekolah lagi dan telah menyadari bahwa hidupnya sebentar lagi akan berakhir. Jiro ingin membuktikan bahwa bantal itu tidak akan mengakibatkan apa-apa terhadap dirinya.
Dalam mimpinya, Jiro dihampiri oleh perempuan cantik, penari-penari telanjang, sekretaris pribadi Jiro, dua orang yang memakai kedok pria berusia lanjut yang mengaku sebagai pelayannya, dan seorang dokter. Jiro bingung mengapa mereka berkumpul di sekelilingnya. Cerita berlanjut sampai akhirnya Jiro mengatakan bahwa ia tidak mau mati saat disuruh minum racun. Ternyata mereka semua yang muncul dalam mimpi Jiro adalah Roh Kota Kantan. Dalam aturan mereka setiap orang yang meniduri bantal itu harus memperoleh penerangan. Bantal itu membantu menyadarkan kepada manusia tentang kesia-siaan hidup manusia. Pada akhirnya Jiro menceritakan mimpinya kepada Kiku dan memutuskan untuk menetap bersama kiku sampai ajalnya.

1. Kutipan 1 (Skripsi Jalan Kematian dan Kesetiaan Sebagai Kode Etik Bushidou Melalui Simbolisme Tokoh Shite dan Shite Tsure dalam Teks Drama Noh Modern 'Kantan' Karya Mishima Yukio oleh Sony Tatar Kristiono 2002:45)
Jiro menolak wanita cantik yang datang di dalam mimpinya karena tidak menyukainya. Namun setelah ada tawar-menawar, Si Cantik sanggup menjadi isteri Jiro yang setia dan tidak cemburu dan ia menerima apa saja asal Jiro mau menjadi suaminya.
美女(びじょ)「次郎(じろう)さん、代(か)わりにあたくしを捨(す)てないで。」
次郎(じろう)「君(きみ)が忠実(ちゅうじつ)な奥(おく)さんにならばね。」
美女(びじょ)「なれてよ。なんでもしてよ。お雑巾(ぞうきん)がけでも、お掃除(そうじ)でもつくるいものでもなんでもしてよ。あなたが裸(はだか)になって街(まち)を歩(ある)けと仰言(おっしゃ)れば、それでもしてよ。」
次郎(じろう)「よしよしいい覚悟(かくご)だ。まず第一(だいいち)に決(けっ)してやきもちを焼(や)かないと。」
美女(びじょ)「ええ、あたくし我慢(がまん)するわ。あたくし何(なん)でも我慢(がまん)してよ。」(邯鄲(かんたん):29)
Si Cantik: Sebagai imbalan, jangan kau tinggalkan aku, Jiro.
Jiro: Hanya bila engkau isteriku yang setia.
Si Cantik: Pastilah! Segala-galanya akan kulakukan. Aku akan menyapu lantai, mengepelnya, mencuci pakaianmu, segala-galanya. Sekiranya engkau menyuruh aku berjalan telanjang di luar, akan kulakukan juga.
Jiro: Bagus, bagus, suatu persiapan yang baik. Pertama-tama engkau sama sekali tidak boleh cemburu.
Si Cantik: Baiklah, aku akan bersabar, aku akan bersabar terhadap apapun.
Dengan bersedia melakukan segala hal untuk Jiro, bahkan bertelanjang di depan orang lain, hal ini menunjukkan Si Cantik tidak peduli dengan kenyataan bahwa hal tersebut dapat menurunkan martabatnya. Meskipun hal ini hanya terjadi di dalam mimpi, namun keadaan tersebut menunjukkan ciri aliran romantisme.

2. Kutipan 2 (Skripsi Jalan Kematian dan Kesetiaan Sebagai Kode Etik Bushidou Melalui Simbolisme Tokoh Shite dan Shite Tsure dalam Teks Drama Noh Modern 'Kantan' Karya Mishima Yukio oleh Sony Tatar Kristiono 2002:58)
Kiku merasa hidupnya telah mati ketika ia tidak lagi mengabdi kepada tuannya Jiro. Namun setelah Jiro memutuskan untuk tidak pergi berkelana seperti suaminya dulu dan memutuskan untuk tinggal bersama-sama dengannya, Kiku sangat bahagia dan merasa seolah-olah hidupnya kembali seperti dulu. Di taman terdengar ramai kicauan burung, dan bersamaan dengan itu tanaman-tanaman yang sebelumnya tak memekarkan bunganya tiba-tiba bermekaran di sana-sini.
次郎(じろう)「菊(きく)やそれがほんとうだよ。つまり菊(きく)やは生(い)きるんだよ。」
菊(きく)「お坊(ぼっ)ちゃま、それではあなたさまだけは菊(きく)を見捨(みす)てずに、ここにずっとおいで下(くだ)さいますか。」
次郎(じろう)「いるとも。ここにずっといるよ。いてもいいかい。」
菊(きく)「ああ、うれしい。この部屋(へや)が役(やく)に立(た)ちました。菊(きく)はまたお坊(ぼっ)ちゃまと二人(ふたり)だけでいられると思(おも)いますと、ああ、うれしい。また十年前(じゅうねんまえ)の自分(じぶん)がかえってくるようでございますわ。」
次郎(じろう)「僕(ぼく)はずっとここにいるんだ。もしかすると死(し)ねまでいるよ。」(邯鄲(かんたん):50)
Jiro: Perasaan itu betul, Kiku... Engkau hidup.
Kiku: Tuan muda, benar-benarkah anda akan tinggal di sini selama-lamanya dan tidak akan meninggalkan saya?
Jiro: Betul. Sepanjang waktu engkau tidak keberatan bukan?
Kiku: Betapa bahagianya saya. Akhirnya ternyata kamar ini ada gunanya. Tuan muda, hanyalah kita berdua. Rasa-rasanya seolah Kiku yang 10 tahun yang lalu kembali hidup.
Jiro: Saya akan tetap di sini sepanjang waktu. Mungkin sampai ajalku.
Setelah mimpinya berakhir, Jiro memutuskan untuk tinggal bersama Kiku. Kiku, yang sangat menyayangi tuan mudanya itu merasa sangat gembira dapat tinggal bersama anak asuhnya yang sangat dia sayangi. Meskipun kasih sayang mereka bukan antara sepasang kekasih, hal ini masih termasuk aliran romantisme dari temanya tentang kasih sayang dan bahasanya yang menyentuh hati.

3. Kutipan 3 (Skripsi Jalan Kematian dan Kesetiaan Sebagai Kode Etik Bushidou Melalui Simbolisme Tokoh Shite dan Shite Tsure dalam Teks Drama Noh Modern 'Kantan' Karya Mishima Yukio oleh Sony Tatar Kristiono 2002:63)
Dalam kurun waktu yang hanya beberapa jam saja cerita ini diakhiri pada saat hari sudah pagi dan burung-burung berkicauan di luar. Pada saat-saat seperti ini orang biasa bangun tidur dan bersiap-siap sarapan pagi dan menikmati indahnya hari yang baru. Bunga-bunga yang berkembang, burung-burung berkicauan dan matahari yang bersinar cerah mengisyaratkan datangnya musim semi.
次郎(じろう)「やあきれいだ、菊(きく)や、庭(にわ)じゅうの花(ばな)が咲(さ)いた。」(邯鄲(かんたん):51)
Jiro: Oh, alangkah indahnya. Kiku, bunga-bunga bermekaran di taman.
Keindahan musim semi dapat digambarkan dengan indah seperti dalam kutipan yaitu bunga-bunga yang bermekaran. Kutipan ini menyinggung aliran naturalism yang dekat dengan alam, namun karena bahasanya yang spontan dan langsung membuat pembacanya dapat merasakan indahnya musim semi setelah segala kesulitan hidup yang dialami Jiro dan Kiku, kutipan ini dapat menjadi ciri aliran romantisme dalam naskah drama Kantan.
 
KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Ciri-ciri karya sastra yang beraliran romantisme adalah penggunaan gaya bahasa yang indah dalam mendeskripsikan atau menggambarkan sesuatu, umumnya bertemakan kasih sayang dan cinta, obsesi terhadap sesuatu yang berlebihan, dan suka cita kehidupan dengan gaya hidup royal.
  2. Cerpen Utakata no Ki karya Mori Ōgai dan puisi Hiru no Yume karya Shimazaki Tōson sangat dipengaruhi oleh aliran romantisme yang ditonjolkan dengan temanya mengenai percintaan, meskipun tidak berakhir dengan bahagia. Bahasa yang dipakai puitis dan mencerminkan perasaan pengarang yang dalam terhadap karyanya tersebut, misalnya puisi Hiru no Yume yang dibuat berdasarkan rasa patah hati karena harus berpisah dengan wanita yang dicintai oleh Mori Ōgai.
  3. Naskah drama noh modern Kantan karya Mishima Yukio secara keseluruhan tidak termasuk aliran romantisme, namun lebih cenderung kepada aliran shirakaba/humanisme yang dibumbui oleh eksistensi manusia dan roh. Namun di dalamnya terdapat beberapa kutipan minor yang termasuk aliran romantisme.
 
DAFTAR PUSTAKA

  1. Analisis Sosiologis Konflik Antar Tokoh Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Rusyad Nurdin 2005: 21, 22, 26, 30, 37, 41, 65.
  2. Analisis Pengaruh Peristiwa Kematian Raja Ludwig II Terhadap Cerpen Utakata no Ki Karya Mori Ōgai oleh Winia Ciptaningrum 2006: 42.
  3. Analisis Tema Puisi-Puisi Lirik Karya Shimazaki Tōson dalam Kumpulan Puisi Wakanashuu oleh Ramona Napitupulu 2002: 64.
  4. Jalan Kematian dan Kesetiaan Sebagai Kode Etik Bushidou Melalui Simbolisme Tokoh Shite dan Shite Tsure dalam Teks Drama Noh Modern 'Kantan' Karya Mishima Yukio oleh Sony Tatar Kristiono 2002: 26, 45, 58, 63.

オーサー パラミタ @ 5:36 AM 0 コメント  

ラベル 日本文学概論

Kewirausahaan: Perkembangan Perekonomian


Tugas ke-3 Kewirausahaan
Nama: Paramitha Nurapriliani
Prodi/Kelas: Sastra Jepang S1/B
Tanggal Menyerahkan: 17 April 2012
Nama Dosen: Upik Rafida, Dra., M.Hum

BAB 1
PENDAHULUAN

Biodata Pengusaha
Ibu Iloh Hayati adalah seorang penjual minuman dan rokok di kawasan UNPAD Jatinangor. Beliau lahir pada 20 Oktober 1954 dan sekarang bertempat tinggal di DSN MANCO RT1/RW5 Desa Gudang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Jarak rumah dengan lokasi usaha tidak cukup jauh, sekitar 6 KM, hanya Rp3000,00 dengan menggunakan angkot 04 berjurusan Sumedang-Cileunyi sekali jalan. Apabila tidak macet, perjalanan berkisar antara 20-30 menit saja.



Ibu Iloh, yang saat ini memiliki lokasi usaha tetap di depan gerbang lama UNPAD Jatinangor ini, sudah sejak lama berdagang minuman dan rokok di UNPAD. Pedagang yang sering disapa akrab sebagai Ibu Ade ini sudah sejak tahun 1987 berjualan di kawasan UNPAD. Meskipun sudah berusia 58 tahun, Ibu Iloh masih kuat untuk menjalankan usahanya sendirian.
Beliau memiliki tanggung jawab tinggi karena harus membiayai hidup banyak cucunya. Beliau memiliki 14 orang cucu yang saat ini hanya 3 orang yang tinggal dekat dengannya, dan beberapa sudah tidak memiliki orang tua. Minimal beliau harus mengeluarkan uang Rp30,000,00 untuk biaya mengaji dan jajan cucunya perorang. Meskipun begitu, beliau melakukannya dengan ikhlas dan tanpa pamrih supaya cucunya bisa hidup dengan baik. Dulu beliau memiliki kontrakan dan dua angkot, namun sekarang tidak lagi.



Sejarah Pendirian Usaha
Usaha Ibu Iloh Hayati meliputi penjualan minuman dan rokok. Lokasi usaha berada di depan gerbang lama UNPAD Jatinangor, di sebelah gerobak nasi gila dan ketoprak. Waktu operasi umumnya dari pukul 06:00 sampai 16:00 atau 17:00. Harga jualan umumnya sama dengan penjual minuman dan rokok lain di sekitar kawasan Jatinangor. Lokasinya yang dekat dengan kawasan kampus menjadikannya sebagai tempat yang mudah untuk didatangi mahasiswa, dosen, atau penetap di sekitarnya.
Fasilitas akomodasi yang digunakan Ibu Iloh adalah gerobak yang bisa beliau bawa berkeliling kampus, seperti pada masa OSPEK berlangsung. Biasanya beliau pergi berkeliling pada saat itu ke kawasan GOR UNPAD, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pengetahuan, Fakultas Sastra, MIPA, Masjid Ibnu Sina, dan sebagainya. Jalanan dalam kampus umumnya menanjak dan menurun sehingga tidak jarang Ibu Iloh dibantu oleh mahasiswa sekitar apabila kesulitan.
Ibu Iloh mulai berjualan di UNPAD Jatinangor sejak bulan Juli 1987. Dengan modal saat itu sebesar Rp40.000, Ibu Iloh menjual bensin, nasi uduk, minuman, dan rokok. Pada saat itu banyak pengendara angkot dalam kampus yang membeli bensin kepada Ibu Iloh sehingga seharinya bisa menjual sekitar 400 Liter. Namun sekarang, dimana penjualan bensin perliter tanpa izin itu dilarang, Ibu Iloh berhenti menjual bensin. Usaha nasi uduknya pun hanya sebentar karena persiapannya yang cukup melelahkan. Ibu Iloh harus membuat nasi uduk di malam hari supaya bisa menjualnya di pagi harinya. Akhirnya, hanya penjualan minuman dan rokok saja yang sampai sekarang digeluti Ibu Iloh.
Awalnya Ibu Iloh mengambil barang ke toko tertentu yang kemudian beliau jajakan, namun sekarang beliau sudah memiliki modal sendiri untuk membeli barang jualannya. Saat ini Ibu Iloh mengeluarkan modal Rp1,000,000,00 untuk usahanya. Pembeli dagangan kebanyakan adalah mahasiswa UNPAD, dosen, dan pedagang sekitar.

 
BAB 2
PEMBAHASAN

Perkembangan perekonomian dalam makalah ini akan ditinjau dari modal, keuntungan, barang jualan, fasilitas akomodasi, dan lokasi usaha.
Usaha yang dilakukan oleh Ibu Iloh Hayati adalah menjual minuman dan rokok. Minuman dalam hal ini adalah minuman siap saji seperti aqua gelas dan minuman botol lainnya. Selain itu, Ibu Iloh juga menjual kopi instan yang dapat diseduh di tempat, penyediaannya menggunakan air panas dan gelas plastik sekali pakai. Rokok yang dijual Ibu Iloh adalah rokok batangan seperti Gudang Garam Filter dan lainnya.
Ditinjau dari modal, pada awal usaha di tahun 1987 Ibu Iloh mengeluarkan modal Rp40,000,00 dan sekarang pada tahun 2012 sebesar Rp1,000,000,00. Ibu Iloh menyatakan bahwa modalnya meningkat dari tahun ke tahun.
Keuntungan yang didapat cukup untuk memenuhi kebutuhannya dan cucu-cucu yang harus beliau biayai sehari-hari untuk jajan dan mengaji, yaitu sekitar Rp30,000,00 perorangnya perhari. Ibu Iloh tidak menyatakan apakah yang dibiayai adalah 3 orang cucunya yang tinggal berdekatan dengannya atau semua cucunya yang berjumlah 14 orang.
Barang yang dijual oleh Ibu Iloh berkurang jenisnya. Dulu, beliau menjual nasi uduk dan bensin, disamping rokok dan minuman. Sekarang, karena bensin telah dilarang dan persiapan nasi uduk yang cenderung melelahkan, Ibu Iloh hanya menjual minuman dan rokok saja. Meskipun begitu, jenis minuman dan rokok yang dijual Ibu Iloh cukup bervariasi.
Ibu Iloh menyatakan bahwa beliau hanya menggunakan gerobak dorong sebagai alat menjajakan jualannya. Apabila tidak berkeliling kampus, beliau akan menjajakan jualannya di depan gerbang lama UNPAD Jatinangor.
Lokasi usaha Ibu Iloh hanya di kawasan UNPAD Jatinagor saja, dan tidak memakan banyak ruang, yaitu hanya sekitar 3 m2 saja, yang diimpit oleh gerobak nasi gila dan ketoprak. Lokasi usaha tidak pernah berpindah tempat ataupun melebar dari dulu sampai sekarang.
Dengan ditinjaunya usaha dari aspek-aspek di atas, saya menyimpulkan bahwa usaha Ibu Iloh sebagai penjual minuman dan rokok tidak mengalami kemajuan yang signifikan, dengan kata lain, tidak berkembang. Usahanya tidak mengalami penurunan karena tetap dalam posisi yang sama sebagai pedagang. Namun, meski banyaknya persaingan dalam bisnis jual-beli di kawasan UNPAD Jatinagor, Ibu Iloh menyatakan bahwa hasil jualannya mencukupi kebutuhannya, dan beliau tidak berhutang dalam memperoleh modalnya. Hal ini menyatakan bahwa pengeluaran tidak lebih besar daripada penghasilan.
Kemungkinan faktor yang menyebabkan ketidakberkembangan usaha Ibu Iloh adalah sebagai berikut:
Memiliki keinginan untuk membuka toko namun enggan mewujudkannya dengan cara meminjam uang karena takut tidak dapat membayarnya. Hal ini terbukti dengan penolakan Ibu Iloh kepada uang Rp20 juta untuk modal dari alumni UNPAD meskipun tidak dikenakan bunga.
Memiliki keinginan untuk memperbesar usahanya namun enggan bekerja sama dengan pengusaha lain karena usahanya saat ini sudah cukup membuahkan hasil untuk kehidupannya sehari-hari.
Tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk berbisnis sehingga pola pikir dan kreativitasnya masih minim, dan kemungkinan besar tidak ingin mengalami kerugian yang mungkin didapat dalam berbisnis lebih lanjut.
Tidak memiliki keluarga yang dapat membantunya dalam menjalankan usahanya. Hal ini dikarenakan dulu Ibu Iloh memiliki kontrakan dan dua angkot yang sekarang tidak lagi dimilikinya karena masalah keluarga.
Tidak ingin mengambil resiko yang akan dialami setiap orang yang melakukan bisnis besar.
Hal ini disebabkan oleh keterhambatan dalam berfikir kreatif. Hambatan berpikir kreatif adalah ketidaktahuan/keengganan menggali dan memahami keunikan diri sendiri, ketidakmampuan mengatasi hambatan berkreasi, melakukan hal yang sama berulang-ulang, dan cenderung menghindari resiko.

T Adams, mengklasifikasikan hambatan kreatifitas sebagai berikut:
1. Hambatan persepsi:

  • Pola pikir stereotip
  • Membatasi masalah secara berlebihan
  • Terlalu banyak/sedikit informasi

2. Hambatan emosi:

  • Takut mengambil resiko
  • Tidak suka ketidak-pastian
  • Lebih suka menilai daripada menghasilkan gagasan
  • Menganggap remeh suatu masalah
  • Tergesa-gesa menyelesaikan masalah

3. Hambatan kultural:

  • Kultur menghambat pengakumulasian gagasan

4. Hambatan lingkungan:

  • Kurangnya dukungan sarana/prasarana kerja

5. Hambatan intelektual:

  • Terlalu mengandalkan logika
  • Enggan menggunakan intuisi
  • Gunakan pengalaman/cara lama yang terbukti efektif hasilnya

 
BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN

Usaha Ibu Iloh dapat berkembang dengan lebih baik apabila Ibu Iloh memberanikan diri untuk bekerja sama dengan pengusaha lain. Hal ini lebih baik daripada meminjam uang kepada bank atau institusi lainnya untuk digunakan mengembangkan usahanya, mengingat sifat Ibu Iloh yang takut berhutang.
Apabila Ibu Iloh mau bekerja sama dengan pengusaha lain misalnya membuat warung tetap, usaha Ibu Iloh akan meningkat karena modal dilipat gandakan, keuntungan dapat berlipat dari lebih banyaknya variasi barang jualan yang dapat dijual, fasilitas akomodasi yang tetap dan terjamin, dan lokasi yang strategis di kawasan Jatinangor.
Hal ini tidak dapat terjadi jika pemasaran yang dilakukan kurang, oleh itu Ibu Iloh harus membuat tempat usahanya lebih menarik sehingga dapat mendatangkan lebih banyak pembeli dan memperluas target pasar.

オーサー パラミタ @ 4:51 AM 0 コメント  

ラベル kewirausahaan, 宿題

Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod

Work under CC License

Creative Commons License