Tugas ke-3 Kewirausahaan
Nama: Paramitha Nurapriliani
Prodi/Kelas: Sastra Jepang S1/B
Tanggal Menyerahkan: 17 April 2012
Nama Dosen: Upik Rafida, Dra., M.Hum
BAB 1
PENDAHULUAN
Biodata Pengusaha
Ibu Iloh Hayati adalah seorang penjual minuman dan rokok di kawasan UNPAD Jatinangor. Beliau lahir pada 20 Oktober 1954 dan sekarang bertempat tinggal di DSN MANCO RT1/RW5 Desa Gudang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Jarak rumah dengan lokasi usaha tidak cukup jauh, sekitar 6 KM, hanya Rp3000,00 dengan menggunakan angkot 04 berjurusan Sumedang-Cileunyi sekali jalan. Apabila tidak macet, perjalanan berkisar antara 20-30 menit saja.
Ibu Iloh, yang saat ini memiliki lokasi usaha tetap di depan gerbang lama UNPAD Jatinangor ini, sudah sejak lama berdagang minuman dan rokok di UNPAD. Pedagang yang sering disapa akrab sebagai Ibu Ade ini sudah sejak tahun 1987 berjualan di kawasan UNPAD. Meskipun sudah berusia 58 tahun, Ibu Iloh masih kuat untuk menjalankan usahanya sendirian.
Beliau memiliki tanggung jawab tinggi karena harus membiayai hidup banyak cucunya. Beliau memiliki 14 orang cucu yang saat ini hanya 3 orang yang tinggal dekat dengannya, dan beberapa sudah tidak memiliki orang tua. Minimal beliau harus mengeluarkan uang Rp30,000,00 untuk biaya mengaji dan jajan cucunya perorang. Meskipun begitu, beliau melakukannya dengan ikhlas dan tanpa pamrih supaya cucunya bisa hidup dengan baik. Dulu beliau memiliki kontrakan dan dua angkot, namun sekarang tidak lagi.
Sejarah Pendirian Usaha
Usaha Ibu Iloh Hayati meliputi penjualan minuman dan rokok. Lokasi usaha berada di depan gerbang lama UNPAD Jatinangor, di sebelah gerobak nasi gila dan ketoprak. Waktu operasi umumnya dari pukul 06:00 sampai 16:00 atau 17:00. Harga jualan umumnya sama dengan penjual minuman dan rokok lain di sekitar kawasan Jatinangor. Lokasinya yang dekat dengan kawasan kampus menjadikannya sebagai tempat yang mudah untuk didatangi mahasiswa, dosen, atau penetap di sekitarnya.
Fasilitas akomodasi yang digunakan Ibu Iloh adalah gerobak yang bisa beliau bawa berkeliling kampus, seperti pada masa OSPEK berlangsung. Biasanya beliau pergi berkeliling pada saat itu ke kawasan GOR UNPAD, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pengetahuan, Fakultas Sastra, MIPA, Masjid Ibnu Sina, dan sebagainya. Jalanan dalam kampus umumnya menanjak dan menurun sehingga tidak jarang Ibu Iloh dibantu oleh mahasiswa sekitar apabila kesulitan.
Ibu Iloh mulai berjualan di UNPAD Jatinangor sejak bulan Juli 1987. Dengan modal saat itu sebesar Rp40.000, Ibu Iloh menjual bensin, nasi uduk, minuman, dan rokok. Pada saat itu banyak pengendara angkot dalam kampus yang membeli bensin kepada Ibu Iloh sehingga seharinya bisa menjual sekitar 400 Liter. Namun sekarang, dimana penjualan bensin perliter tanpa izin itu dilarang, Ibu Iloh berhenti menjual bensin. Usaha nasi uduknya pun hanya sebentar karena persiapannya yang cukup melelahkan. Ibu Iloh harus membuat nasi uduk di malam hari supaya bisa menjualnya di pagi harinya. Akhirnya, hanya penjualan minuman dan rokok saja yang sampai sekarang digeluti Ibu Iloh.
Awalnya Ibu Iloh mengambil barang ke toko tertentu yang kemudian beliau jajakan, namun sekarang beliau sudah memiliki modal sendiri untuk membeli barang jualannya. Saat ini Ibu Iloh mengeluarkan modal Rp1,000,000,00 untuk usahanya. Pembeli dagangan kebanyakan adalah mahasiswa UNPAD, dosen, dan pedagang sekitar.
BAB 2
PEMBAHASAN
Perkembangan perekonomian dalam makalah ini akan ditinjau dari modal, keuntungan, barang jualan, fasilitas akomodasi, dan lokasi usaha.
Usaha yang dilakukan oleh Ibu Iloh Hayati adalah menjual minuman dan rokok. Minuman dalam hal ini adalah minuman siap saji seperti aqua gelas dan minuman botol lainnya. Selain itu, Ibu Iloh juga menjual kopi instan yang dapat diseduh di tempat, penyediaannya menggunakan air panas dan gelas plastik sekali pakai. Rokok yang dijual Ibu Iloh adalah rokok batangan seperti Gudang Garam Filter dan lainnya.
Ditinjau dari modal, pada awal usaha di tahun 1987 Ibu Iloh mengeluarkan modal Rp40,000,00 dan sekarang pada tahun 2012 sebesar Rp1,000,000,00. Ibu Iloh menyatakan bahwa modalnya meningkat dari tahun ke tahun.
Keuntungan yang didapat cukup untuk memenuhi kebutuhannya dan cucu-cucu yang harus beliau biayai sehari-hari untuk jajan dan mengaji, yaitu sekitar Rp30,000,00 perorangnya perhari. Ibu Iloh tidak menyatakan apakah yang dibiayai adalah 3 orang cucunya yang tinggal berdekatan dengannya atau semua cucunya yang berjumlah 14 orang.
Barang yang dijual oleh Ibu Iloh berkurang jenisnya. Dulu, beliau menjual nasi uduk dan bensin, disamping rokok dan minuman. Sekarang, karena bensin telah dilarang dan persiapan nasi uduk yang cenderung melelahkan, Ibu Iloh hanya menjual minuman dan rokok saja. Meskipun begitu, jenis minuman dan rokok yang dijual Ibu Iloh cukup bervariasi.
Ibu Iloh menyatakan bahwa beliau hanya menggunakan gerobak dorong sebagai alat menjajakan jualannya. Apabila tidak berkeliling kampus, beliau akan menjajakan jualannya di depan gerbang lama UNPAD Jatinangor.
Lokasi usaha Ibu Iloh hanya di kawasan UNPAD Jatinagor saja, dan tidak memakan banyak ruang, yaitu hanya sekitar 3 m2 saja, yang diimpit oleh gerobak nasi gila dan ketoprak. Lokasi usaha tidak pernah berpindah tempat ataupun melebar dari dulu sampai sekarang.
Dengan ditinjaunya usaha dari aspek-aspek di atas, saya menyimpulkan bahwa usaha Ibu Iloh sebagai penjual minuman dan rokok tidak mengalami kemajuan yang signifikan, dengan kata lain, tidak berkembang. Usahanya tidak mengalami penurunan karena tetap dalam posisi yang sama sebagai pedagang. Namun, meski banyaknya persaingan dalam bisnis jual-beli di kawasan UNPAD Jatinagor, Ibu Iloh menyatakan bahwa hasil jualannya mencukupi kebutuhannya, dan beliau tidak berhutang dalam memperoleh modalnya. Hal ini menyatakan bahwa pengeluaran tidak lebih besar daripada penghasilan.
Kemungkinan faktor yang menyebabkan ketidakberkembangan usaha Ibu Iloh adalah sebagai berikut:
Memiliki keinginan untuk membuka toko namun enggan mewujudkannya dengan cara meminjam uang karena takut tidak dapat membayarnya. Hal ini terbukti dengan penolakan Ibu Iloh kepada uang Rp20 juta untuk modal dari alumni UNPAD meskipun tidak dikenakan bunga.
Memiliki keinginan untuk memperbesar usahanya namun enggan bekerja sama dengan pengusaha lain karena usahanya saat ini sudah cukup membuahkan hasil untuk kehidupannya sehari-hari.
Tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk berbisnis sehingga pola pikir dan kreativitasnya masih minim, dan kemungkinan besar tidak ingin mengalami kerugian yang mungkin didapat dalam berbisnis lebih lanjut.
Tidak memiliki keluarga yang dapat membantunya dalam menjalankan usahanya. Hal ini dikarenakan dulu Ibu Iloh memiliki kontrakan dan dua angkot yang sekarang tidak lagi dimilikinya karena masalah keluarga.
Tidak ingin mengambil resiko yang akan dialami setiap orang yang melakukan bisnis besar.
Hal ini disebabkan oleh keterhambatan dalam berfikir kreatif. Hambatan berpikir kreatif adalah ketidaktahuan/keengganan menggali dan memahami keunikan diri sendiri, ketidakmampuan mengatasi hambatan berkreasi, melakukan hal yang sama berulang-ulang, dan cenderung menghindari resiko.
T Adams, mengklasifikasikan hambatan kreatifitas sebagai berikut:
1. Hambatan persepsi:
- Pola pikir stereotip
- Membatasi masalah secara berlebihan
- Terlalu banyak/sedikit informasi
2. Hambatan emosi:
- Takut mengambil resiko
- Tidak suka ketidak-pastian
- Lebih suka menilai daripada menghasilkan gagasan
- Menganggap remeh suatu masalah
- Tergesa-gesa menyelesaikan masalah
3. Hambatan kultural:
- Kultur menghambat pengakumulasian gagasan
4. Hambatan lingkungan:
- Kurangnya dukungan sarana/prasarana kerja
5. Hambatan intelektual:
- Terlalu mengandalkan logika
- Enggan menggunakan intuisi
- Gunakan pengalaman/cara lama yang terbukti efektif hasilnya
BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN
Usaha Ibu Iloh dapat berkembang dengan lebih baik apabila Ibu Iloh memberanikan diri untuk bekerja sama dengan pengusaha lain. Hal ini lebih baik daripada meminjam uang kepada bank atau institusi lainnya untuk digunakan mengembangkan usahanya, mengingat sifat Ibu Iloh yang takut berhutang.
Apabila Ibu Iloh mau bekerja sama dengan pengusaha lain misalnya membuat warung tetap, usaha Ibu Iloh akan meningkat karena modal dilipat gandakan, keuntungan dapat berlipat dari lebih banyaknya variasi barang jualan yang dapat dijual, fasilitas akomodasi yang tetap dan terjamin, dan lokasi yang strategis di kawasan Jatinangor.
Hal ini tidak dapat terjadi jika pemasaran yang dilakukan kurang, oleh itu Ibu Iloh harus membuat tempat usahanya lebih menarik sehingga dapat mendatangkan lebih banyak pembeli dan memperluas target pasar.



0 コメント:
Post a Comment