TUGAS NIHONGOGAKU
MERANGKUM BUKU PRAGMATIK
BUKU YANG DIPAKAI:
PRAGMATICS, A MULTIDISCIPLINARY PERSPECTIVE
OXFORD UNIVERSITY PRESS., INC, NEW YORK, 1999
LOUISE CUMMINGS
ANNISA TYAS HUTAMI (180610090057)
PARAMITHA NURAPRILIANI (180610090065)
DIAR DWI OKTASARI (180610090076)
UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS ILMU BUDAYA
JATINANGOR
2012
Cruse (2000:16): Pragmatik dapat dianggap dapat berurusan dengan aspek-aspek informasi (dalam pengertian yang paling luas) yang disampaikan melalui bahasa yang (a) tidak dikodekan oleh konvensi yang diterima secara umum dalam bentuk-bentuk linguistik yang digunakan, namun yang (b) juga muncul secara alamiah dari dan tergantung pada makna-makna yang dikodekan secara konvensional dengan ¬konteks tempat penggunaan bentuk-bentuk tersebut [penekanan ditambahkan].
KONSEP DAN TEORI PRAGMATIK
1. Teori tindak tutur
Tindak ujaran (speech acts) ialah pengucapan suatu kalimat di mana si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu, tetapi ia juga menindakkan sesuatu (Purwo, 1990: 19). Searle di dalam bukunya Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (1969: 23-24) dalam Wijana (1996: 17-22), mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni:
a.Tindak lokusi, yaitu tindak tutur untuk menyatakan sesuatu.
b.Tindak ilokusi, yaitu sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu.
c.Tindak perlokusi, yaitu sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force), atau efek bagi yang mendengarkannya.
Pengklasifikasian rangkap tiga terhadap tindak-tindak yakni dalam bertutur, seseorang melakukan tindak lokusi dan ilokusi. Menurut Austin, tindak lokusi ‘kira-kira sama dengan pengujaran kalimat tertentu dengan pengertian dan acuan tertentu, yang sekali lagi kira-kira sama dengan “makna” dalam pengertian tradisional’ (1975:109). Bagi Austin, tujuan penutur dalam bertutur bukan hanya untuk memproduksi kalimat-kalimat yang memiliki pengertian dan acuan tertentu. Bahkan tujuannya adalah untuk menghasilkan kalimat-kalimat dengan pandangan untuk memberikan kontribusi jenis gerakan interaksional tertentu pada komunikasi.
Contoh:
“Anjing galak itu ada di kebun.”
Selama penutur sedang berusaha memproduksi kalimat yang maknanya didasarkan pada acuan pada ‘anjing’ dan ‘kebun’ tertentu dalam dunia luar, maka penutur ini sedang memproduksi tindak lokusi Austin. Penutur bisa juga sedang melakukan tindak ilokusi dalam bentuk memperingatkan seseorang agar tidak masuk ke dalam kebun itu. Dalam hal ini peringatan merupakan daya ilokusi ujaran itu. Jika penutur berhasil menghalangi pendengarnya untuk masuk ke dalam kebun, maka, melalui ujaran ini, penutur ini telah melakukan suatu tindak perlokusi.
2. Teori implikatur
Greece (1957:358) A menginginkan ujaran X menghasilkan suatu efek tertentu pada khalayak dengan cara mengenal maksud ini.
Contoh:
A: “Do you want to come around my place tonight?”
(Maukah kau datang ke rumahku malam ini?)
B: “John’s mother is visiting this evening.
(Ibu John sedang berkunjung malam ini)
Dalam konteks-konteks lain ujaran B dapat diinterpretasikan dengan:
a.Bahwa A telah bertanya kepada B sehari sebelumnya kapan kunjungan Ibu John berikutnya. Ujaran B berfungsi memberitahu A tentang peristiwa tersebut.
b.Mungkin B tahu bahwa A sangat senang dengan Ibu John dan membuat ujaran ini dengan pandangan untuk menunjukkan bahwa A datang untuk menemuinya.
c.Mungkin B tahu kalau A menganggap Ibu John sebagai wanita yang sangat menyenangkan. Dengan pengetahuan ini di benak B, dia mungkin sedang berusaha mengingatkan A untuk tidak berkunjung malam ini.
Dalam teori implikatur terdapat 4 maksim. Levinson (1983:101-102):
1.Maksim kualitas: usahakan memberikan kontribusi yang benar, khususnya:
-Tidak mengatakan apa yang anda yakini salah.
-Tidak mengatakan sesuatu buktinya tidak anda miliki secara memadai.
2.Maksum kuantitas
-Memberikan kontribusi anda sebagai kontribusi yang dapat memberikan informasi sebagai mana yang diperlukan untuk tujuan-tujuan pertukaran percakapan yang ada.
-Jangan memberikan kontribusi yang lebih informatif dari yang diperlukan
3.Maksim relevansi: buatlah kontribusi anda relevan.
4.Maksim cara: bersikaplah agar mudah dipahami, dan khususnya:
-Hindari ketidakjelasan
-Hindari ketaksaan
-Jangan berbelit-belit
-Bersikaplah teratur
Dalam percakapan di atas, B berlagak tidak bisa mengamati maksim relasi. B ingin membuat niatnya mengabaikan maksim ini diketahui oleh penutur A yang memang bermaksud untuk mengomunikasikan makna tambahan tertentu. Dalam mengabaikan pengamatan terhadap maksim ini, B sedang berupaya untuk menghasilkan implikatur percakapan tertentu yang menyatakan bahwa dia ingin menolak tawaran A.
3. Teori relevansi
Semua maksim Greece dapat digantikan oleh prinsip relevansi tunggal yang menyatakan bahwa penutur berusaha bersikap serelevan mungkin dalam berbagai keadaan yang bila diuraikan secara benar, dapat mengatasi sejumlah besar data yang memang dirancang untuk dijelaskan oleh maksim-maksim Greece (Wilson & Spellberg, 1991:381).
Ciri prinsip relevansi Spellberg & Wilson:
-Daya terapannya tidak hanya pada komunikasi, tetapi juga pada bidang kognisi pada umumnya.
-Perwujudan karakteristik ekonimisnya adalah konsekuensi langsung asal usul kognitif prinsip ini.
-Kapasitasnya baik dalam membentuk ujaran-ujaran yang disumbangkan penutur terhadap komunikasi maupun dalam memengaruhi bagaimana pendengar ujaran-ujaran tersebut mulai memprosesnya.
Contoh:
A: “Will you join me for lunch?” (Maukah kau makan siang bersamaku?)
B: “We’ll be at the bank for some time.” (Kami akan di bank untuk beberapa saat.)
Bagi Spellberg & Wilson, jawaban B tersebut merupakan bentuk yang logis (representasi semantik) yang secara reverensial harus dilengkapi, ditaksakan dan dikayakan agar dapat memperoleh bentuk proporsional yang diungkapkan oleh ujaran tersebut.
Berdasarkan sejumlah parameter dapat diperoleh eksplikatur ujaran B. Eksplikatur adalah bentuk logika ujaran yang telah dikembangkan secara penuh. B bermaksud mengomunikasikan penolakan makan siang oleh A. Dalam pengertian teoretis relevansi, B menjelaskan penolakan ini dengan menjamin kepada A kalau ujarannya sangat relevan ketika eksplikaturnya diproses dalam konteks yang merupakan bagian dari pengetahuan A yang tersimpan.
Premis 1: (pengetahuan A yang tersimpan) Jika seseorang menghabiskan banyak waktu di bank lokal, dia tidak akan bisa bergabung dengan seseorang di tempat lain untuk makan siang.
Premis 2: (eksplikatur ujaran B) B akan menghabiskan banyak waktu di bank lokal.
Kesimpulan: (implikatur ujaran B) B tidak akan bisa bergabung dengan A untuk makan siang.
4. Deiksis
Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen yang berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana, 1998: 6). Deiksis dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan (Cahyono, 1995: 217).
Beberapa ungkapan linguistik memberi contoh hubungan antara bahasa dan konteks yang lebih baik, bukan sekedar istilah-istilah deiksis. Istilah-istilah ini yang mencakup ungkapan-ungkapan dari kategori-kategori gramatikan yang memiliki kegaraman sama banyaknya seperti kata ganti dan kata kerja, menerangkan berbagai entitas dalam konteks sosial, linguistik, atau ruang waktu ujaran yang lebih luas.
a.Deiksis orang dan deiksis sosial
Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. Pertama ialah orang pertama, yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya, misalnya saya, kita, dan kami. Kedua ialah orang kedua, yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama, misalnya kamu, kalian, saudara. Ketiga ialah orang ketiga, yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu, baik hadir maupun tidak, misalnya dia dan mereka.
Contoh:
“Shall we go out for lunch?” (Apakah kita akan keluar makan siang?)
“We expect to cut waiting list by the end of the year.” (Kami berharap dapat memangkas daftar tunggu menjelang akhir tahun ini.)
Dalam kedua ujaran ini digunakan kata ganti ‘we’ namun demikian, hanya dalam ujaran pertama sajalah kata ganti ‘we’ dianggap mencakup mitra tutur dalam referen ini. Ini dikarenakan perbedaan dalam latar sosial ujaran-ujaran ini dan dampak perbedaan ini terhadap peran sosial para partisipan. Ini bermakna deiksis orang tergantung pada aspek-aspek deiksis sosial.
b.Deiksis waktu
Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. Dalam banyak bahasa, deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk “kala” (Inggris: tense) (Nababan, 1987: 41).
Contoh keterkaitan deiksis orang dan waktu:
“I left last week.” (Saya pergi minggu lalu.)
Referen ‘last week’ dalam ujaran berbeda titik waktunya dari waktu ketika penutur membuat ujaran ini. Tetapi kemudian pengaitan peran partisipan penutur dengan ujaran ini merupakan masalah deiksis orang.
Contoh deiksis waktu:
“Yesterday was a glorious day.” (Kemarin adalah hari yang luar biasa.)
“The explosion occured yesterday.” (Ledakan itu terjadi kemarin.)
‘Yesterday’ merupakan unit waktu 24 jam. Namun, ‘yesterday’ dalam ujaran pertama mengacu pada sebagian besar, dan mungkin semua unit waktu 24 jam ini, sedangkan ‘yesterday’ pada ujaran kedua mengacu hanya pada detik-detik dalam unit waktu ini.
c.Deiksis tempat
Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia- membedakan antara “yang dekat kepada pembicara” (di sini) dan “yang bukan dekat kepada pembicara” (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan, 1987: 41).
Contoh:
“The bank is 10 yards from the pharmacy.” (Bank itu 10 hasta jauhnya dari pabrik obat.)
“The nearest shop is 2 miles away.” (Toko terdekat jauhnya 2 mil dari sini.)
Referen tenpat dalam contoh pertama tidak tergantung pada saat pembuatan ujaran: jarak antara bank dan pabrik obat tetap sejauh 10 yard di manapun penutur ujaran ini berada. Namun, lokasi toko bisa kurang lebih dari 2 mil jauhnya tergantung pada lokasi penutur.
d.Deiksis wacana
Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan, 1987: 42). Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini, itu, yang terdahulu, yang berikut, yang pertama disebut, begitulah, dsb.
Deiksis wacana harus dibedakan dari gagasan terkait.
Contoh:
“Fred was washed the dishes and he did some gardening.” (Fred mencuci piring-piring itu dan dia melakukan pekerjaan berkebun.)
“The teacher explained the inquisition and the asked the pupils to spell it.” (Guru menjelaskan kata inquisition dan kemudian meminta anak-anak untuk mengejanya.)
Dalam ujaran pertama kata ‘he’ dan nama orang ‘Fred’ mengacu pada objek yang sama dan bersifat ko-referensional. Berbeda dengan yang kedua, dimana kata ‘it’ mengacu bukan pada peristiwa bersejarah yang ditujukan oleh istilah ‘inquisition’, melainkan pada ‘inquisition’ itu sendiri.
5. Praanggapan
Praanggapan didefinisikan sebagai asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu.
Praanggapan (presupposition) adalah apa yang diasumsikan oleh penutur sebagai hal yang benar atau hal yang diketahui pendengar (Cahyono, 1995: 219). Menurut Nababan (1987: 46), praanggapan adalah dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar/penerima bahasa itu, dan sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa (kalimat, dsb) yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.
Contoh:
“The doctor managed to save the baby’s life.” (Dokter berhasil menyelamatkan nyawa bayi itu.)
Diasumsikan bahwa dokter berusaha menyelamatkan nyawa si bayi. Selain itu, asumsi ini tersirat dalam makna kata kerja ‘managed’ (berhasil). Namun asumsi ini sama sekali bukan bagian dari makna semantik kata kerja ini.
Merangkum buku pragmatik
Wednesday, December 12, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 コメント:
Post a Comment