Variasi atau ragam bahasa merupakan bahasan pokok dalam studi sosiolinguistik, sehingga Kridalaksana (1974) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang berusaha menjelaskan ciri-ciri variasi bahasa dan menetapkan korelasi ciri-ciri variasi bahasa tersebut dengan ciri-ciri sosial kemasyarakatan.
Variasi bahasa terjadi karena:
1. Penutur bahasa, meski berada dalam masyarakat tutur, tidak merupakan kumpulan manusia yang homogen, maka wujud bahasa yang kongkret (parole) menjadi tidak seragam (keragaman sosial seperti etnis, status sosial, dan lapangan pekerjaan).
2. Kegiatan interaksi sosial yang dilakukan penutur sangat beragam, sehingga bahasa yang digunakan memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat.
3. Keragaman akan semakin bertambah tergantung kepada jumlah penutur yang semakin banyak serta dalam wilayah yang sangat luas.
Halliday (1970, 1990) membedakan variasi bahasa berdasarkan:
1. Pemakai yang disebut dialek.
2. Pemakaian yang disebut register.
-->PEMAKAI
Dialek
1. Dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu (dialek areal, dialek regional, atau dialek geografi).
2. Para penutur dalam suatu dialek, meskipun memiliki idiolek (warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dsb) masing-masing, memiliki kesamaan ciri yang menandai bahwa mereka berada pada satu dialek, yang berbeda dengan kelompok penutur lain, yang berada dalam dialeknya sendiri dengan ciri lain yang menandai dialeknya juga.
3. Penggunaan istilah dialek dan bahasa dalam linguistik: jika masyarakat tutur masih saling mengerti, maka alat komunikasinya adalah dua dialek dari bahasa yang sama. Secara politis: meskipun kedua masyarakat tutur bisa saling mengerti karena alat komunikasi verbalnya mempunyai kesamaan sistem dan subsistem, tapi keduanya dianggap sebagai dua bahasa yang berbeda. Contoh: Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu secara linguistik adalah sebuah bahasa, tapi secara politis dianggap dua bahasa berbeda.
Dialek sosial
1. Dialek sosial adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya.
2. Menyangkut semua masalah pribadi penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dsb.
3. Semuanya ditinjau dari perbedaan dalam bidang morfologi, sintaksis dan kosakata.
4. Bidang kosakata. Contoh koran harian Kompas yang lebih banyak dibaca oleh golongan terpelajar, sedangkan Pos Kota lebih banyak dibaca oleh golongan buruh dan kurang terpelajar.
4. Masyarakat tutur yang (masih) mengenal tingkat-tingkat kebangsawanan seperti Bahasa Jawa (undak usuk), Bali (sor singgih), dan Sunda. Contoh:
/------------\/------------\
|Orang biasa || Raja-raja |
|------------||------------|
| Tidur || Beradu |
| Mandi || Bersiram |
| Mati || Mangkat |
\------------/\------------/
5. Sosial ekonomi yang tinggi tidak lagi identik dengan status kebangsawanan yang tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh Labov menunjukkan adanya variasi bahasa berkenaan dengan status sosial ekonomi ini, dan telah dibuktikan adanya korelasi antara tingkat sosial ekonomi itu dengan tingkat penguasaan bahasa.
6. Variasi bahasa berkenaan dengan tingkat, golongan, status, dan kelas sosial:
a. akrolek: variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atai lebih bergengsi. Contoh: dialek Jakarta cenderung semakin bergengsi sebagai salah satu ciri kota metropolitan, sebab para remaja di daerah, dan yang pernah pergi ke Jakarta, merasa bangga bisa berbicara dalam dialek tsb.
b. basilek: dianggap kurang bergengsi. Contoh: Bahasa Inggris yang digunakan para cowboy dan kuli tambang.
c. vulgar: dipakai oleh kaum kurang terpelajar, atau tidak berpendidikan. Contoh: pada zaman Romawi sampai zaman pertengahan bahasa-bahasa di Eropa dianggap sebagai bahasa vulgar, sebab pada waktu itu para golongan intelek menggunakan Bahasa Latin dalam semua kegiatan.
d. slang: bersifat khusus dan rahasia, temporal (sering berubah) dan lebih umum digunakan oleh kaula muda. Contoh: bahasa prokem.
e. kolokial: digunakan dalam percakapan sehari-hari. Yang penting adalah konteks dan pemakaiannya. Contoh dalam Bahasa Inggris: don't, I'd, well, pretty (very), funny (peculiar), take stock in (believe), join up (enlist), put up with (tolerate), dsb. Contoh dalam Bahasa Indonesia: dok (dokter), prof (profesor), ndak ada (tidak ada), dsb.
/------------------------\/---------------------\
| Bahasa Indonesia || Bahasa Inggris |
|------------------------||---------------------|
| Non-formal | Formal || Non-formal | Formal |
|------------|-----------||------------|--------|
| dok | dokter || don’t | do not |
| prof | profesor || pretty | very |
| ndak ada | tidak ada || join up | enlist |
\------------------------/\---------------------/
f. jargon: digunakan terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu, meski seringkali tidak dipahami umum, tidak bersifat rahasia. Contoh dalam kelompok montir dan perbengkelan: roda gila, didongkrak, dices, dibalans, dan dipoles.
g. argot: terbatas pada profesi tertentu dan bersifat rahasia. Contoh dalam dunia kejahatan:
/----------\/------------------\
| Istilah | Arti |
|----------|-------------------|
| barang | mangsa |
| kacamata | polisi |
| daun | uang |
| gemuk | mangsa besar |
| tape | mangsa yang empuk |
\----------/\------------------/
h. ken: bernada memelas, dibuat merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan; biasa digunakan para pengemis (the cant of beggar - bahasa pengemis).
-->PEMAKAIAN
Keformalan
1. Martin Joos (1967) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya (Inggris Style):
a. Ragam beku: paling formal, digunakan dalam situasi-situasi khidmat, dan uparaca resmi, misalnya, kitab undang-undang. Pola dan kaidah sudah ditetapkan secara mantap, tidak boleh diubah. Contoh dari Pembukaan UUD 1945: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh karena itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
b. Ragam resmi/formal: pola kaidah sudah ditetapkan sebagai standar. Contoh: acara peminangan, diskusi di ruang kuliah.
c. Ragam usaha/konsultatif: paling operasional. Contoh: pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat.
d. Ragam santai/kasual: tidak resmi untuk bincang dengan keluarga atau teman karib saat istirahat, olah raga, rekreasi, dsb. Banyak menggunakan allegro (kata/ujaran yang dipendekkan), dan unsur leksikal dialek dan unsur bahasa daerah. Seringkali struktur morfologi dan sintaksis yang normatif tidak digunakan.
e. Ragam akrab/intim: digunakan oleh penutur yang hubungannya sudah akrab, ditandai dengan bahasa yang tidak lengkap, pendek-pendek, artikulasi yang seringkali tidak jelas karena partisipan sudah saling pengertian dan memiliki pengetahuan yang sama.
Contoh:
(a) Saudara boleh mengambil buku-buku ini yang Saudara sukai. (Ragam usaha)
(b) Ambillah yang kamu sukai! (Ragam santai)
(c) Kalau mau ambil aja! (Ragam akrab)
Tingkat keformalan: (a) > (b) > (c)
-->SARANA
1. Ragam lisan: unsur nonsegmental/nonlinguistic yang berupa nada suara, gerak-gerik, tangan, gelengan kepala, dan gelaja fisik lainnya; kesalahan atau kesalahpengertian dapat segera diperbaiki/diralat.
2. Ragam tulisan: lebih menaruh perhatian agar kalimat-kalimat yang disusun bisa dipahami pembaca dengan baik dengan menyebut secara eksplisit unsur-unsurnya; kesalahan atau kesalahpengertian baru kemudian bisa diperbaiki.
Contoh:
Ragam lisan: (menunjuk kursi) Tolong pindahkan ini!
Ragam tulisan: Tolong pindahkan kursi itu!
Karena ragam tulisan tidak memiliki unsur penunjuk atau pengarahan pandangan pada kursi itu, maka harus secara eksplisit menyebutkan kata kursi itu.
Sumber:
Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie. 2004. Jakarta: Rineka Cipta.
Variasi Bahasa secara umum
Wednesday, December 5, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 コメント:
Post a Comment