1. 女の言葉と男の言葉。
女の言葉 , bahasa wanita (feminime language) adalah sebuah variasi bahasa Jepang, yang secara khusus dipakai oleh kaum wanita sebagai suatu refleksi feminitas mereka.
男の言葉 (ragam bahasa pria) adalah bahasa yang kuat sekali kecenderungannya dipakai oleh penutur pria. (Sudjianto, Dahidi. 2004:204)
Contoh kalimat ragam bahasa pria dan wanita:
男の言葉:
今日はいい天気だね。
今日はいい天気だよね。
今日はいい天気だな。
女の言葉:
今日はいい天気ですわね。
今日はいい天気ですのね。
今日はいい天気だわね。
今日はいい天気ね。
2. ようじ;幼児の言葉・育児(いくじ)の言葉。
幼児語 (baby talk) adalah bahasa yang digunakan kepada bayi atau anak-anak. Contoh:
ニャンニャン - ネコ
モーモー - ウシ
ワンワン - イヌ
ブーブー 又(また)は ブブ - 自動車
ポッポ - ハト
コッコー、コッコ(さん) - ニワトリ
チッチ、シー - 排尿(はいにょう) (wikipedia)
3. せんもん;専門の言葉・仲間(なかま)の言葉
せんもん;専門語 ・テクニカルジャーゴン adalah istilah teknis atau jargon teknis.
Contoh: Pada masyarakat umum, air dikenal dengan 水, tetapi dalam kimia, air disebut dengan H20.
なかま;仲間の言葉 adalah bahasa antar teman dekat yang dimengerti oleh partisipan. Contoh:
A「今日、駅でめっちゃ変な人見てん」
B「うっそー」
A「五十歳くらいのおっちゃんが、スカートはいてマニキュアとかしててん」
B「うわぁ、いたいなあ」
--
A「うわっ、いきなりフラ語でしゃべりはじめたで」
B「ほんまや。いったぁー」
--
A「自転車、盗まれてん」
B「うわっ、最ババ!」
--
A「スカートのファスナーあいたまま自転車乗っとってC君に見られてーん!! ショックリー!」
B「あほやなー」
--
A「明日、ひまー?」
B「学校やっちゅーねん!」
--
A「先輩、おしりが破けてますよ。つくろったげましょう」
B「ありがたいねえ、意外だねえ」
A「こんなのちゃめしごとですよ」
(http://www001.upp.so-net.ne.jp/ketoba/nakamauchinokobtoba.htm)
4. 若者言葉・キャンパス言葉
若者言葉 adalah bahasa yang digunakan oleh orang muda. Contoh:
ガン見 melihat/memandangi sesuatu
ぶっちゃけ berbicara dengan jujur, seadanya, blak-blakan
いけてる keren, bagus, enak
「このサイト、チョーうけるんだけど…www」I love this site. It is hilarious.… LOL!
「ってか、リアルにすごくね?」I mean isn’t it awesome?
(http://www.maggiesensei.com/2010/05/07/若者言葉wakamono-kotoba-young-peoples-japanese)
キャンパス言葉 adalah istilah atau bahasa yang digunakan di dalam kawasan kampus. Contoh:
アンパン – tentang AM dan PM konbini (AM=あん, PM=ぱん)「アンパンで雑誌を立ち読みする」
いーしゃんてん – Keadaan dimana absensi melebihi dua sehingga tidak akan mendapat nilai。Diambil dari terminologi mahjong。「お前ちょっと欠席多いんじゃん?」「そろそろいーしゃんてんかな」
(http://www.f.waseda.jp/uenok/kenkyu/campus/campus.html)
5. 言葉デフォルメ
6. 方言のイメージ
7. 東の方言・西の方言
Pembagian dialek Honshu sebagai dialek wilayah Timur, dan dialek wilayah Barat yang dibatasi dengan pegunungan Alpen Jepang. (Sudjianto, Dahidi. 2004:201)
Contoh:
東の方言: おばあ、そういうけんど、おらこっちのほう、半分しかけたばかりでねえかよ。(Dialek Tohoku)
西の方言: こがいな山奥へ、東京のお方が、ようおごしなはしたことよ。そしてうちかたのようなむさいところへ、よう泊まってやんなはることよ。(Dialek Shikoku)
8. 気づかれにくい方言。
気づかれにくい方言 adalah dialek bahasa Jepang yang dipandang sebagai bahasa Jepang standar.
Contoh:
「来れば」の読み方
カ行変格活用とされる「来る」は条件形として「来れば」の形を取る。これは共通語では「くれば」であり「これば」ではない。「これば」というのは方言としての条件形「こりゃ」などに牽引された形であり、「書かなかった」と「書かなんだ」から生まれた新方言「書かんかった」と同様の生成過程を経ているものと考えら
れる。今回、この「来れば」について読み方を問うた。県内出身者と県外出身者とを比較する。
(http://www.tuins.ac.jp/library/pdf/jinbun-PDF/08.yamada.11.pdf)
9. 新しい方言・古い方言。
新しい方言 adalah dialek yang relatif baru dibentuk di setiap daerah di Jepang sebagai perwakilan. Contoh: ザラ板(いた) yang merupakan dialek Nagoya, istilah untuk papan pengering yang diletakkan di depan rak sepatu sekolah. (wikipedia)
10. 方言と共通語(きょうつうご)
方言(dialek) dikatakan sebagai bahasa yang dipakai oleh masyarakat suatu wilayah yang ada di dalam sebuah bahasa nasional yang memiliki perbedaan bunyi bahasanya, kosakatanya, gramatikalnya, dan sebagainya berdasarkan wilayahnya. (Sudjianto, Dahidi. 2004:199)
Contoh hougen:
どこぞでご飯食べたいと思いますが、つきおうてくれませんか、言いやはるねんけど。( Dialek Kansai)
共通語 yaitu bahasa Jepang yang dipahami dan dipakai di mana saja di seluruh negeri secara luas tanpa dibatasi wilayah tertentu. (Sudjianto,Dahidi.2004:202)
Contoh kyoutsugo:
昼ごはんをたべましょう!
11. 言葉の切りかえ
12. 敬(うやま)う言葉・へりくだることば
敬う言葉・警護(けいご) adalah bahasa yang digunakan untuk memberikan penghormatan kepada siapa atau apa yang disebut (honorifik). Contoh: いる・行く→いらっしゃる、食べる→召し上がる、見る→ご覧になる、する→なさる (wikipedia)
へりくだることば adalah bahasa merendah diri, yaitu menurunkan derajat sendiri dalam percakapan. Contoh: xxx
13. 上品な言葉・下品な言葉
Adalah kata atau istilah yang memiliki kesan rendah atau tinggi dalam pemakaiannya. Contoh:
下品 x 上品
つら x 顔
腹 x おなか
けつ x (お)尻
くそ x うんち
しょんべん x おしっこ
(http://okwave.jp/qa/q7514862.html)
14. きひ;忌避する言葉・慶弔(けいちょう)の言葉
きひ【忌避】する adalah kata-kata yang dihindari penggunaannya dalam berbahasa Jepang. Kata-kata tersebut dianggap tabu oleh masyarakat Jepang dalam situasi tertentu sehingga dilarang penggunaannya atau diganti dengan kata-kata lain yang bisa diterima oleh masyarakat.
忌避 (kihi) dalam Kokugo Dai Jiten dijelaskan bahwa:
1.いやなことや不利なことなどを嫌って避けること。[学研国語大辞典、 1978:456]
“hal menghindari sesuatu yang tidak disukai, merugikan, dsb.”
Contoh:
Buah pir di dalam bahasa Jepang adalah なし, tetapi untuk di kalangan petani, buah pir disebut dengan ありのみ. Hal ini berkaitan dengan kata なし yang dapat disamakan dengan kata ない yang berarti tidak ada. Para petani pun mengganggap jika menggunakan kata なし dapat menimbulkan kerugian, sehingga mereka menyebut buah pir dengan kata ありのみ, yang bermakna ada (あり=ada, み=buah).
Contoh lain adalah ketika seorang anak mengikuti ujian, maka orang tua dan keluarga anak tersebut akan menghindari kata-kata seperti すべる danおちる. Karena hanya dengan menggunakan kata-kata すべる(terpeleset) dan おちる (jatuh), mereka percaya akan berdampak buruk bagi anak mereka yang sedang mengikuti ujian. Untuk menghindari anak mereka gagal dalam ujian, maka kata-kata tersebut pun tidak digunakan.
Kata-kata lain yang dianggap tabu adalah :
きちがい = gila (insane, crazy, atau psychopathetic). Mirip dengan 基地外 (kichigai) yang berbunyi sama tapi berbeda kanji. 基地 (kichi) berarti basement, dan 外 (gai) berarti luar, yang berarti bukan apa-apa. 電波 (denpa) juga memiliki arti yang sama. 基地外 dan 電波 digunakan untuk mendeskripsikan orang yang menyusahkan. Pada tingkatan yang lebih tinggi dari基地外, dapat disebut マジキチ (majikichi) yang merupakan sebuah abreviasi dari マジでキチガイじみてるからやめろ (maji de kichigai jimiteru kara yamero) atau "hentikan, ini benar-benar gila!". キ印 (kijirushi) juga memiliki makna yang sama. キ mewakili キチガイ dan 印 (shirushi) bermakna label atau tanda. Kata yang lebih umum adalah へん, おかしい, どうかしてる meskipun tidak memiliki arti yang sebanding.
(http://bangin.wordpress.com/2010/05/27/マジキチ-majikichi/)
おまんこ= vulva, vagina. おまんこAdalah kata vulgar bahasa Jepang yang berarti vulva atau vagina. Ini mungkin merupakan kata yang paling tabu di dalam bahasa Jepang. Kata ini diketahui umum namun penggunaannya sangat dibatasi. Menurut beberapa sumber, kata おまんこ adalah kata yang berasal dari daerah Kanto dan Tohoku; di Kansai, おまんこ lebih umum digunakan, dan ada beberapa variasi dialeknya. おまんこ tidak muncul dalam koran, TV, maupun radio, dan apabila kata ini muncul dalam percetakan dan internet, biasanya disensor. Menurut kutipan di 性語辞典, kata ini bahkan disensor dari soundtracks video porno, dan apabila diucapkan di depan kamera, akan di ピィ---. Kokugo Jiten yang paling dikenal setelah perang, 広辞苑 (koujien), tidak pernah memasukkan kata ini dan kamus biasa juga tidak memasukkannya dalam daftar. Kebanyakan kamus kontemporer yang memang memasukkan おまんこ (大辞林 (daijirin) dan 日本語大辞典) hanya memberikan definisi singkat dan tidak satupun menyebutkan ketabuan kata ini. Kata ini ditulis dengan hiragana atau katakana. Kata ini disensor biasanya dengan cara menggantikan ん dengan bulatan, bintang, atau simbol lain (contoh: おま*こ).
(http://www.jekai.org/entries/aa/00/np/aa00np25.htm)
おたく (お宅) adalah kata yang berasal dari kata 宅 (rumah) dan diberi penghalusan 「お」. Kata otaku itu sendiri dipakai untuk menunjuk kepada orang yang terlalu suka/terobsesi/fanatik dengan sesuatu sehingga mereka jarang keluar dari rumah. Namun kata otaku dianggap menghina untuk orang Jepang karena berarti kemampuan bersosial mereka tidak berkembang dikarenakan terlalu asyik dengan hobi mereka secara tidak sehat. Otaku dianggap tabu sejak Miyazaki Tsutomu yang membunuhi anak-anak bayi di tahun 80-an dan merekam anak-anak perempuan yang dia bunuh karena terobsesi pada lolicon.
(http://www.urbandictionary.com/define.php?term=otaku)
へんたい (変態) = pervert. Ecchi (エッチ) digunakan untuk mengekspresikan apapun yang berhubungan dengan kondisi batin and aktivitas seksual. Derivasi dari istilah Hentai (変態), diromajikan dan diambil huruf awalnya yaitu 'H' yang dalam bahasa Jepang dibaca eichi (エイチ). Cara baca ini kemudian diganti menjadi ecchi, kemungkinan dilakukan untuk menghindari penyimpangan maksud pada saat menyebut huruf H.
(http://www.japantimes.co.jp/text/ek20120924a1.html)
「し」 kata shi berarti mati dalam konteks tertentu dalam bahasa Jepang, dan juga berarti 4. Banyak bangunan di Jepang tidak memiliki 4 lantai, dan tanggal 4 tiap bulan dianggap tidak beruntung. Oleh itu untuk hitungan, tidak menggunakan shi untuk 4, melainkan yon. Dan untuk 14 atau nomor lain dengan akhiran 4 digunakan yon juga; sehingga 14 disebut ju-yon, bukan ju-shi.
(http://www.screwattack.com/news/taste-japan-japanese-taboos)
けいちょう 【慶弔】menurut Kokugo Daijiten adalah:
よろこび祝うべきことと、悲しみとむらうべきこと。慶事と凶事。
慶弔 adalah pemberian ucapan selamat atas kegembiraan dan pemberian ucapan duka atas kesedihan. Beberapa jenis pola kalimatnya:
Selamat atas... ~おめでとう。 Kalimat standar ucapan selamat.
I wish you the best of luck and every success in... ~がうまくいくように祈っています。 Digunakan untuk mendoakan kesuksesan seseorang di masa yang akan datang.
Semoga selalu sukses... ~が成功するように祈っています。 Mendoakan kesuksesan di masa akan datang.
Selamat atas (sesuatu yang telah dilakukan)... ~お疲れ様。 Digunakan untuk mengucapkan selamat atas keberhasilan seseorang melakukan sesuatu, kesan ucapan selamat lebih rendah daripada ucapan ~おめでとう.
Selamat, aku tahu kau bisa melakukannya. お疲れ様。頑張ったね。 Digunakan kepada teman dekat dan keluarga.
Contoh:
Selamat ulang tahun: お誕生日おめでとうございます
Selamat tahun baru: 明けましておめでとうございます
Perkawinan (semoga kedua mempelai bahagia selamanya): おめでとうございます。末永くお幸せに。
Pertunangan: 婚約おめでとう!
Happy anniversary: 記念日おめでとう!
Semoga lekas sembuh: お大事に
Selamat lulus ujian mengemudi: 卒業検定合格おめでとう!
Selamat atas kelahiran bayinya: ご安産おめでとうございます。
Selamat atas kelulusannya: ご卒業おめでとう!
Upacara kedewasaan: ご成人おめでとうございます。
Berbelasungkawa: ご逝去を悼み、謹んでお悔やみ申し上げます。
http://en.bab.la/phrases/personal/best-wishes/english-japanese/
15. サービスの言葉
サービスのことば adalah kata-kata yang dipakai dalam pelayanan atau jasa.
Contoh percakapan サービスの言葉:
Front Office: いらっしゃいませ。チェックインですか。 (Selamat datang di hotel kami. Apakah anda mau chek in?)
さと一郎: はい、そうです。さと一郎です。 (Iya, saya akan chek in. Saya Sato Ichirou.)
Front Office: 予約はいただいていますか。 (Apakah tuan sebelumnya sudah memesan kamar?)
さと一郎: これは予約の確認書です。 (Ini slip pemesanan kamar saya.)
Front Office: ありがとうございます。少しお待ちください。 (Terima kasih. Tolong tunggu sebentar.)
(Pribadi. 2005:28)
16. 喜怒哀楽(きどあいらく)の言葉 adalah kata-kata yang digunakan untuk mengekspresikan rasa gembira, kemarahan, kesedihan (perasaan khas) yang dimiliki oleh manusia. Contoh:
Kata-kata emosi:
~を楽しませていただきます。
~を楽しませてもらいます。
明日、お会いできるのを楽しみにしています。
今日はあっという間に時間が過ぎました。
今日は私のために時間をつくってくれてありがとう。
Perasaan:
~な感じ
私が受けた感じでは、~でした。
もう怖くて死にそうです。
17. 話し言葉と書き言葉(音声編(おんせいへん))
話し言葉、adalah bahasa yang dinyatakan dengan suara yang terlihat di dalam ceramah, rapat, percakapan, dan sebagainya. Memiliki karakteristik seperti pada prinsipnya dapat didengar hanya satu kali, akan terdengar atau dipahami hanya dalam lingkungan yang dapat mendengar suara itu, walaupun terdapat kesalahan dalam gramatikal namun hal itu tidak dipermasalahkan. (Sudjianto, Dahidi. 2004:211)
書き言葉、adalah bahasa yang dinyatakan dengan huruf tertulis yang sering terlihat di dalam surat kabar, majalah, karya ilmiah, novel, surat, dan sebagainya. Memiliki karakteristik seperti dapat dibaca beberapa kali, ada wujudnya, dapat dibawa ke tempat jauh, sangat tepat secara gramatikal, dan sebagainya. (Sudjianto, Dahidi. 2004:211)
話し言葉 x 書き言葉
忘れちゃった。 x 忘れてしまいました。
すげー! x すごい。
あったけ~ x あたたかい。
18. 話し言葉と書き言葉(文字編(もじへん))
Bahasa percakapan lebih simpel daripada bahasa tulis. Contoh:
めっちゃでかい=とても大きい
本当にごめんなさい=誠に申し訳ありません
すごい出来事=大変な出来事
前に=以前
でも=しかし
から=のでため
どっちにしろ=いずれにせよ
もう一回=もう一度再度
(http://reformer.mitarashidango.com/article3/index.html)
19. 論文・レポートのことば
Bahasa yang digunakan dalam laporan dan karya ilmiah haruslah jelas, tidak ambigu, dan menghindari kalimat panjang yang dapat menimbulkan kebingungan. Contoh:
- ここが2社の成功した要因じゃないかと思うのです。
- それゆえタブレット向けアプリのニーズも、今後急速に高まるものと考えられる。
20. メール・ネットのことば
メールの言葉、bahasa yang digunakan di email. ネットの言葉、bahasa yang digunakan di internet.
Contoh meeru no kotoba :
件名 Re: 昨日はありがとうございました
先日はど一も!
メ一ルがありがとう
俺ってさ、携帯のメ一ルってあまりやらない人なんだよね一。
だから自分でもアドレス分からない (笑)。 ごめんね。
Contoh netto no kotoba:
kr@jtmw.jpへ空メールを送るだけ!パソコンも携帯もどちらからでもできるよ。
(Kera. 2008)
21. マンガ・雑誌の言葉
マンガの言葉, kata-kata yang digunakan di dalam komik. 雑誌の言葉, kata-kata yang digunakan di dalam majalah.
Contoh manga no kotoba:
マリー:お兄様結婚するの? (Kakak akan menikah?)
カイン:うん。 (Ya.)
マリー:お兄様婚約者いたの? (Kakak punya tunangan?)
カイン:うん。 (Ya.)
マリー:いつ結婚するの? (Kapan kakak akan menikah?)
カイン:半年。 (Setengah tahun lagi.)
マリー:な、なんなのそれーっ?なんでそんなに落ち着いているのよ~っ (A, apa-apaan itu? Kenapa kakak tenang sekali seperti itu??)
カイン:そーはー言いましても。
(Akai hitsuji no Kokuin. 2009:17)
Contoh zasshi no kotoba:
もっとドキドキするような服に出会いたい!わがままガールに送る。
アウトロー的なスタイルが好き。みんなと一緒なんて全然つまんないじゃない?
(Kera. 2008:21)
22. ゆれていることば adalah pemendekan suku kata bahasa Jepang supaya lebih mudah diucapkan, meskipun tidak benar tapi masih diterima umum.
23. 化石化(かせきか)したことば
24. 非母語話者(ひぼごわしゃ)の日本語 non-native speaker bahasa Jepang.
25. やさしい日本語 adalah ‘easy Japanese’ yaitu Bahasa Jepang yang berubah sedemikian rupa dan strukturnya diturunkan (down grade) supaya lebih dimengerti oleh orang luar. Contoh:
聴解(ちょうかい) - 普通の日本語(NJ):
①火の元の安全を確認(かくにん)してください
②落下物(らっかぶつ)に備(そな)えて、頭部(とうぶ)を保護(ほご)してください
③それでは、避難(ひなん)してください
聴解(ちょうかい) - やさしい日本語(EJ):
①ガスの火を消してください
②あぶないので、帽子(ぼうし)をかぶってください
③それでは、逃げてください
読解(どっかい) - 普通の日本語(NJ):
④手を清潔(せいけつ)にしてください
⑤飲料水(いんりょうすい)を一本お持ち帰りください
⑥この出口を使用して避難(ひなん)してください
この出口は避難(ひなん)には使用できません
読解(どっかい) - やさしい日本語(EJ):
④手をふいてください
⑤水を一本持って行ってください
⑥ここから出てください
ここから出てはいけません
(http://human.cc.hirosaki-u.ac.jp/kokugo/tagengoenglish.html)
Variasi Bahasa #2
Saturday, December 15, 2012
Merangkum buku pragmatik
Wednesday, December 12, 2012
TUGAS NIHONGOGAKU
MERANGKUM BUKU PRAGMATIK
BUKU YANG DIPAKAI:
PRAGMATICS, A MULTIDISCIPLINARY PERSPECTIVE
OXFORD UNIVERSITY PRESS., INC, NEW YORK, 1999
LOUISE CUMMINGS
ANNISA TYAS HUTAMI (180610090057)
PARAMITHA NURAPRILIANI (180610090065)
DIAR DWI OKTASARI (180610090076)
UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS ILMU BUDAYA
JATINANGOR
2012
Cruse (2000:16): Pragmatik dapat dianggap dapat berurusan dengan aspek-aspek informasi (dalam pengertian yang paling luas) yang disampaikan melalui bahasa yang (a) tidak dikodekan oleh konvensi yang diterima secara umum dalam bentuk-bentuk linguistik yang digunakan, namun yang (b) juga muncul secara alamiah dari dan tergantung pada makna-makna yang dikodekan secara konvensional dengan ¬konteks tempat penggunaan bentuk-bentuk tersebut [penekanan ditambahkan].
KONSEP DAN TEORI PRAGMATIK
1. Teori tindak tutur
Tindak ujaran (speech acts) ialah pengucapan suatu kalimat di mana si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu, tetapi ia juga menindakkan sesuatu (Purwo, 1990: 19). Searle di dalam bukunya Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (1969: 23-24) dalam Wijana (1996: 17-22), mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni:
a.Tindak lokusi, yaitu tindak tutur untuk menyatakan sesuatu.
b.Tindak ilokusi, yaitu sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu.
c.Tindak perlokusi, yaitu sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force), atau efek bagi yang mendengarkannya.
Pengklasifikasian rangkap tiga terhadap tindak-tindak yakni dalam bertutur, seseorang melakukan tindak lokusi dan ilokusi. Menurut Austin, tindak lokusi ‘kira-kira sama dengan pengujaran kalimat tertentu dengan pengertian dan acuan tertentu, yang sekali lagi kira-kira sama dengan “makna” dalam pengertian tradisional’ (1975:109). Bagi Austin, tujuan penutur dalam bertutur bukan hanya untuk memproduksi kalimat-kalimat yang memiliki pengertian dan acuan tertentu. Bahkan tujuannya adalah untuk menghasilkan kalimat-kalimat dengan pandangan untuk memberikan kontribusi jenis gerakan interaksional tertentu pada komunikasi.
Contoh:
“Anjing galak itu ada di kebun.”
Selama penutur sedang berusaha memproduksi kalimat yang maknanya didasarkan pada acuan pada ‘anjing’ dan ‘kebun’ tertentu dalam dunia luar, maka penutur ini sedang memproduksi tindak lokusi Austin. Penutur bisa juga sedang melakukan tindak ilokusi dalam bentuk memperingatkan seseorang agar tidak masuk ke dalam kebun itu. Dalam hal ini peringatan merupakan daya ilokusi ujaran itu. Jika penutur berhasil menghalangi pendengarnya untuk masuk ke dalam kebun, maka, melalui ujaran ini, penutur ini telah melakukan suatu tindak perlokusi.
2. Teori implikatur
Greece (1957:358) A menginginkan ujaran X menghasilkan suatu efek tertentu pada khalayak dengan cara mengenal maksud ini.
Contoh:
A: “Do you want to come around my place tonight?”
(Maukah kau datang ke rumahku malam ini?)
B: “John’s mother is visiting this evening.
(Ibu John sedang berkunjung malam ini)
Dalam konteks-konteks lain ujaran B dapat diinterpretasikan dengan:
a.Bahwa A telah bertanya kepada B sehari sebelumnya kapan kunjungan Ibu John berikutnya. Ujaran B berfungsi memberitahu A tentang peristiwa tersebut.
b.Mungkin B tahu bahwa A sangat senang dengan Ibu John dan membuat ujaran ini dengan pandangan untuk menunjukkan bahwa A datang untuk menemuinya.
c.Mungkin B tahu kalau A menganggap Ibu John sebagai wanita yang sangat menyenangkan. Dengan pengetahuan ini di benak B, dia mungkin sedang berusaha mengingatkan A untuk tidak berkunjung malam ini.
Dalam teori implikatur terdapat 4 maksim. Levinson (1983:101-102):
1.Maksim kualitas: usahakan memberikan kontribusi yang benar, khususnya:
-Tidak mengatakan apa yang anda yakini salah.
-Tidak mengatakan sesuatu buktinya tidak anda miliki secara memadai.
2.Maksum kuantitas
-Memberikan kontribusi anda sebagai kontribusi yang dapat memberikan informasi sebagai mana yang diperlukan untuk tujuan-tujuan pertukaran percakapan yang ada.
-Jangan memberikan kontribusi yang lebih informatif dari yang diperlukan
3.Maksim relevansi: buatlah kontribusi anda relevan.
4.Maksim cara: bersikaplah agar mudah dipahami, dan khususnya:
-Hindari ketidakjelasan
-Hindari ketaksaan
-Jangan berbelit-belit
-Bersikaplah teratur
Dalam percakapan di atas, B berlagak tidak bisa mengamati maksim relasi. B ingin membuat niatnya mengabaikan maksim ini diketahui oleh penutur A yang memang bermaksud untuk mengomunikasikan makna tambahan tertentu. Dalam mengabaikan pengamatan terhadap maksim ini, B sedang berupaya untuk menghasilkan implikatur percakapan tertentu yang menyatakan bahwa dia ingin menolak tawaran A.
3. Teori relevansi
Semua maksim Greece dapat digantikan oleh prinsip relevansi tunggal yang menyatakan bahwa penutur berusaha bersikap serelevan mungkin dalam berbagai keadaan yang bila diuraikan secara benar, dapat mengatasi sejumlah besar data yang memang dirancang untuk dijelaskan oleh maksim-maksim Greece (Wilson & Spellberg, 1991:381).
Ciri prinsip relevansi Spellberg & Wilson:
-Daya terapannya tidak hanya pada komunikasi, tetapi juga pada bidang kognisi pada umumnya.
-Perwujudan karakteristik ekonimisnya adalah konsekuensi langsung asal usul kognitif prinsip ini.
-Kapasitasnya baik dalam membentuk ujaran-ujaran yang disumbangkan penutur terhadap komunikasi maupun dalam memengaruhi bagaimana pendengar ujaran-ujaran tersebut mulai memprosesnya.
Contoh:
A: “Will you join me for lunch?” (Maukah kau makan siang bersamaku?)
B: “We’ll be at the bank for some time.” (Kami akan di bank untuk beberapa saat.)
Bagi Spellberg & Wilson, jawaban B tersebut merupakan bentuk yang logis (representasi semantik) yang secara reverensial harus dilengkapi, ditaksakan dan dikayakan agar dapat memperoleh bentuk proporsional yang diungkapkan oleh ujaran tersebut.
Berdasarkan sejumlah parameter dapat diperoleh eksplikatur ujaran B. Eksplikatur adalah bentuk logika ujaran yang telah dikembangkan secara penuh. B bermaksud mengomunikasikan penolakan makan siang oleh A. Dalam pengertian teoretis relevansi, B menjelaskan penolakan ini dengan menjamin kepada A kalau ujarannya sangat relevan ketika eksplikaturnya diproses dalam konteks yang merupakan bagian dari pengetahuan A yang tersimpan.
Premis 1: (pengetahuan A yang tersimpan) Jika seseorang menghabiskan banyak waktu di bank lokal, dia tidak akan bisa bergabung dengan seseorang di tempat lain untuk makan siang.
Premis 2: (eksplikatur ujaran B) B akan menghabiskan banyak waktu di bank lokal.
Kesimpulan: (implikatur ujaran B) B tidak akan bisa bergabung dengan A untuk makan siang.
4. Deiksis
Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen yang berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana, 1998: 6). Deiksis dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan (Cahyono, 1995: 217).
Beberapa ungkapan linguistik memberi contoh hubungan antara bahasa dan konteks yang lebih baik, bukan sekedar istilah-istilah deiksis. Istilah-istilah ini yang mencakup ungkapan-ungkapan dari kategori-kategori gramatikan yang memiliki kegaraman sama banyaknya seperti kata ganti dan kata kerja, menerangkan berbagai entitas dalam konteks sosial, linguistik, atau ruang waktu ujaran yang lebih luas.
a.Deiksis orang dan deiksis sosial
Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. Pertama ialah orang pertama, yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya, misalnya saya, kita, dan kami. Kedua ialah orang kedua, yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama, misalnya kamu, kalian, saudara. Ketiga ialah orang ketiga, yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu, baik hadir maupun tidak, misalnya dia dan mereka.
Contoh:
“Shall we go out for lunch?” (Apakah kita akan keluar makan siang?)
“We expect to cut waiting list by the end of the year.” (Kami berharap dapat memangkas daftar tunggu menjelang akhir tahun ini.)
Dalam kedua ujaran ini digunakan kata ganti ‘we’ namun demikian, hanya dalam ujaran pertama sajalah kata ganti ‘we’ dianggap mencakup mitra tutur dalam referen ini. Ini dikarenakan perbedaan dalam latar sosial ujaran-ujaran ini dan dampak perbedaan ini terhadap peran sosial para partisipan. Ini bermakna deiksis orang tergantung pada aspek-aspek deiksis sosial.
b.Deiksis waktu
Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. Dalam banyak bahasa, deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk “kala” (Inggris: tense) (Nababan, 1987: 41).
Contoh keterkaitan deiksis orang dan waktu:
“I left last week.” (Saya pergi minggu lalu.)
Referen ‘last week’ dalam ujaran berbeda titik waktunya dari waktu ketika penutur membuat ujaran ini. Tetapi kemudian pengaitan peran partisipan penutur dengan ujaran ini merupakan masalah deiksis orang.
Contoh deiksis waktu:
“Yesterday was a glorious day.” (Kemarin adalah hari yang luar biasa.)
“The explosion occured yesterday.” (Ledakan itu terjadi kemarin.)
‘Yesterday’ merupakan unit waktu 24 jam. Namun, ‘yesterday’ dalam ujaran pertama mengacu pada sebagian besar, dan mungkin semua unit waktu 24 jam ini, sedangkan ‘yesterday’ pada ujaran kedua mengacu hanya pada detik-detik dalam unit waktu ini.
c.Deiksis tempat
Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia- membedakan antara “yang dekat kepada pembicara” (di sini) dan “yang bukan dekat kepada pembicara” (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan, 1987: 41).
Contoh:
“The bank is 10 yards from the pharmacy.” (Bank itu 10 hasta jauhnya dari pabrik obat.)
“The nearest shop is 2 miles away.” (Toko terdekat jauhnya 2 mil dari sini.)
Referen tenpat dalam contoh pertama tidak tergantung pada saat pembuatan ujaran: jarak antara bank dan pabrik obat tetap sejauh 10 yard di manapun penutur ujaran ini berada. Namun, lokasi toko bisa kurang lebih dari 2 mil jauhnya tergantung pada lokasi penutur.
d.Deiksis wacana
Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan, 1987: 42). Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini, itu, yang terdahulu, yang berikut, yang pertama disebut, begitulah, dsb.
Deiksis wacana harus dibedakan dari gagasan terkait.
Contoh:
“Fred was washed the dishes and he did some gardening.” (Fred mencuci piring-piring itu dan dia melakukan pekerjaan berkebun.)
“The teacher explained the inquisition and the asked the pupils to spell it.” (Guru menjelaskan kata inquisition dan kemudian meminta anak-anak untuk mengejanya.)
Dalam ujaran pertama kata ‘he’ dan nama orang ‘Fred’ mengacu pada objek yang sama dan bersifat ko-referensional. Berbeda dengan yang kedua, dimana kata ‘it’ mengacu bukan pada peristiwa bersejarah yang ditujukan oleh istilah ‘inquisition’, melainkan pada ‘inquisition’ itu sendiri.
5. Praanggapan
Praanggapan didefinisikan sebagai asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu.
Praanggapan (presupposition) adalah apa yang diasumsikan oleh penutur sebagai hal yang benar atau hal yang diketahui pendengar (Cahyono, 1995: 219). Menurut Nababan (1987: 46), praanggapan adalah dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar/penerima bahasa itu, dan sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa (kalimat, dsb) yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.
Contoh:
“The doctor managed to save the baby’s life.” (Dokter berhasil menyelamatkan nyawa bayi itu.)
Diasumsikan bahwa dokter berusaha menyelamatkan nyawa si bayi. Selain itu, asumsi ini tersirat dalam makna kata kerja ‘managed’ (berhasil). Namun asumsi ini sama sekali bukan bagian dari makna semantik kata kerja ini.
Junjokyu Nihongo #3 第26課
Sunday, December 9, 2012
Wo megutte (を巡って) tentang, mengenai, biasanya membicarakan perselisihan, rumor, argumen, dsb.
そのおもちゃをめぐって子供達が争った。
Anak-anak memperebutkan mainan itu.
彼の浮気をめぐるうわさは学内に広がった。
Rumor tentang dia berselingkuh menyebar ke seluruh sekolah.
Ni motozuite (に基づいて) berdasarkan pada, berasal dari.
調査した資料に基づいて、レポートを書かなければならない。
Laporan harus ditulis berdasarkan dokumen survey.
この話は事実に基づいている。
Cerita ini berdasarkan pada kenyataan.
Wazuka (わずか)
僅かながらの私の持っていたお金を全部彼に与えた。
Saya memberi dia uang saya yang sedikit (yang saya miliki).
僅かな不注意が大惨事に繋がる恐れがある。
Sedikit kecuaian dapat menyebabkan bencana besar.
Gurai (ぐらい) dapat diganti dengan hodo atau yaku. Digunakan untuk memperkirakan periode waktu atau kuantitas.
一時間ぐらい待ちました。
Saya menunggu sekitar satu jam.
駅まで五分ぐらいです。
Kira-kira 5 menit (untuk sampai) ke stasiun.
この靴は二千円ぐらいでした。
Sepatu ini kira-kira 2000 yen.
本が五十冊ぐらいあります。
Ada sekitar 50 buku.
あの子は五歳ぐらいでしょう。
Anak itu mungkin sekitar 5 tahunan.
Yaku diletakkan sebelum kuantitas yang disebut.
カナダの人口は約2600万人です。
Populasi Kanada sekitar 26 juta orang.
中国の人口は日本の8倍です。
Populasi Cina 8 kali populasi Jepang.
約五千人の観衆です。
Ada sekitar 5000 orang penonton.
あなたは言われた通りにしさえすればいい。
Kamu hanya harus mengerjakan seperti yang disuruh.
説明書の通りにそれぞれの部分をチェックしましたが、動きませんでした。
Saya telah mengecek semua bagian sesuai dengan buku panduan tapi tidak bisa jalan.
その問題に関してはいろいろな本がある。
Mengenai masalah itu, banyak buku-buku (yang membahasnya).
ラベル Junjokyu Nihongo, 宿題
Variasi Bahasa secara umum
Wednesday, December 5, 2012
Variasi atau ragam bahasa merupakan bahasan pokok dalam studi sosiolinguistik, sehingga Kridalaksana (1974) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang berusaha menjelaskan ciri-ciri variasi bahasa dan menetapkan korelasi ciri-ciri variasi bahasa tersebut dengan ciri-ciri sosial kemasyarakatan.
Variasi bahasa terjadi karena:
1. Penutur bahasa, meski berada dalam masyarakat tutur, tidak merupakan kumpulan manusia yang homogen, maka wujud bahasa yang kongkret (parole) menjadi tidak seragam (keragaman sosial seperti etnis, status sosial, dan lapangan pekerjaan).
2. Kegiatan interaksi sosial yang dilakukan penutur sangat beragam, sehingga bahasa yang digunakan memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat.
3. Keragaman akan semakin bertambah tergantung kepada jumlah penutur yang semakin banyak serta dalam wilayah yang sangat luas.
Halliday (1970, 1990) membedakan variasi bahasa berdasarkan:
1. Pemakai yang disebut dialek.
2. Pemakaian yang disebut register.
-->PEMAKAI
Dialek
1. Dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu (dialek areal, dialek regional, atau dialek geografi).
2. Para penutur dalam suatu dialek, meskipun memiliki idiolek (warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dsb) masing-masing, memiliki kesamaan ciri yang menandai bahwa mereka berada pada satu dialek, yang berbeda dengan kelompok penutur lain, yang berada dalam dialeknya sendiri dengan ciri lain yang menandai dialeknya juga.
3. Penggunaan istilah dialek dan bahasa dalam linguistik: jika masyarakat tutur masih saling mengerti, maka alat komunikasinya adalah dua dialek dari bahasa yang sama. Secara politis: meskipun kedua masyarakat tutur bisa saling mengerti karena alat komunikasi verbalnya mempunyai kesamaan sistem dan subsistem, tapi keduanya dianggap sebagai dua bahasa yang berbeda. Contoh: Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu secara linguistik adalah sebuah bahasa, tapi secara politis dianggap dua bahasa berbeda.
Dialek sosial
1. Dialek sosial adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya.
2. Menyangkut semua masalah pribadi penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dsb.
3. Semuanya ditinjau dari perbedaan dalam bidang morfologi, sintaksis dan kosakata.
4. Bidang kosakata. Contoh koran harian Kompas yang lebih banyak dibaca oleh golongan terpelajar, sedangkan Pos Kota lebih banyak dibaca oleh golongan buruh dan kurang terpelajar.
4. Masyarakat tutur yang (masih) mengenal tingkat-tingkat kebangsawanan seperti Bahasa Jawa (undak usuk), Bali (sor singgih), dan Sunda. Contoh:
/------------\/------------\
|Orang biasa || Raja-raja |
|------------||------------|
| Tidur || Beradu |
| Mandi || Bersiram |
| Mati || Mangkat |
\------------/\------------/
5. Sosial ekonomi yang tinggi tidak lagi identik dengan status kebangsawanan yang tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh Labov menunjukkan adanya variasi bahasa berkenaan dengan status sosial ekonomi ini, dan telah dibuktikan adanya korelasi antara tingkat sosial ekonomi itu dengan tingkat penguasaan bahasa.
6. Variasi bahasa berkenaan dengan tingkat, golongan, status, dan kelas sosial:
a. akrolek: variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atai lebih bergengsi. Contoh: dialek Jakarta cenderung semakin bergengsi sebagai salah satu ciri kota metropolitan, sebab para remaja di daerah, dan yang pernah pergi ke Jakarta, merasa bangga bisa berbicara dalam dialek tsb.
b. basilek: dianggap kurang bergengsi. Contoh: Bahasa Inggris yang digunakan para cowboy dan kuli tambang.
c. vulgar: dipakai oleh kaum kurang terpelajar, atau tidak berpendidikan. Contoh: pada zaman Romawi sampai zaman pertengahan bahasa-bahasa di Eropa dianggap sebagai bahasa vulgar, sebab pada waktu itu para golongan intelek menggunakan Bahasa Latin dalam semua kegiatan.
d. slang: bersifat khusus dan rahasia, temporal (sering berubah) dan lebih umum digunakan oleh kaula muda. Contoh: bahasa prokem.
e. kolokial: digunakan dalam percakapan sehari-hari. Yang penting adalah konteks dan pemakaiannya. Contoh dalam Bahasa Inggris: don't, I'd, well, pretty (very), funny (peculiar), take stock in (believe), join up (enlist), put up with (tolerate), dsb. Contoh dalam Bahasa Indonesia: dok (dokter), prof (profesor), ndak ada (tidak ada), dsb.
/------------------------\/---------------------\
| Bahasa Indonesia || Bahasa Inggris |
|------------------------||---------------------|
| Non-formal | Formal || Non-formal | Formal |
|------------|-----------||------------|--------|
| dok | dokter || don’t | do not |
| prof | profesor || pretty | very |
| ndak ada | tidak ada || join up | enlist |
\------------------------/\---------------------/
f. jargon: digunakan terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu, meski seringkali tidak dipahami umum, tidak bersifat rahasia. Contoh dalam kelompok montir dan perbengkelan: roda gila, didongkrak, dices, dibalans, dan dipoles.
g. argot: terbatas pada profesi tertentu dan bersifat rahasia. Contoh dalam dunia kejahatan:
/----------\/------------------\
| Istilah | Arti |
|----------|-------------------|
| barang | mangsa |
| kacamata | polisi |
| daun | uang |
| gemuk | mangsa besar |
| tape | mangsa yang empuk |
\----------/\------------------/
h. ken: bernada memelas, dibuat merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan; biasa digunakan para pengemis (the cant of beggar - bahasa pengemis).
-->PEMAKAIAN
Keformalan
1. Martin Joos (1967) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya (Inggris Style):
a. Ragam beku: paling formal, digunakan dalam situasi-situasi khidmat, dan uparaca resmi, misalnya, kitab undang-undang. Pola dan kaidah sudah ditetapkan secara mantap, tidak boleh diubah. Contoh dari Pembukaan UUD 1945: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh karena itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
b. Ragam resmi/formal: pola kaidah sudah ditetapkan sebagai standar. Contoh: acara peminangan, diskusi di ruang kuliah.
c. Ragam usaha/konsultatif: paling operasional. Contoh: pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat.
d. Ragam santai/kasual: tidak resmi untuk bincang dengan keluarga atau teman karib saat istirahat, olah raga, rekreasi, dsb. Banyak menggunakan allegro (kata/ujaran yang dipendekkan), dan unsur leksikal dialek dan unsur bahasa daerah. Seringkali struktur morfologi dan sintaksis yang normatif tidak digunakan.
e. Ragam akrab/intim: digunakan oleh penutur yang hubungannya sudah akrab, ditandai dengan bahasa yang tidak lengkap, pendek-pendek, artikulasi yang seringkali tidak jelas karena partisipan sudah saling pengertian dan memiliki pengetahuan yang sama.
Contoh:
(a) Saudara boleh mengambil buku-buku ini yang Saudara sukai. (Ragam usaha)
(b) Ambillah yang kamu sukai! (Ragam santai)
(c) Kalau mau ambil aja! (Ragam akrab)
Tingkat keformalan: (a) > (b) > (c)
-->SARANA
1. Ragam lisan: unsur nonsegmental/nonlinguistic yang berupa nada suara, gerak-gerik, tangan, gelengan kepala, dan gelaja fisik lainnya; kesalahan atau kesalahpengertian dapat segera diperbaiki/diralat.
2. Ragam tulisan: lebih menaruh perhatian agar kalimat-kalimat yang disusun bisa dipahami pembaca dengan baik dengan menyebut secara eksplisit unsur-unsurnya; kesalahan atau kesalahpengertian baru kemudian bisa diperbaiki.
Contoh:
Ragam lisan: (menunjuk kursi) Tolong pindahkan ini!
Ragam tulisan: Tolong pindahkan kursi itu!
Karena ragam tulisan tidak memiliki unsur penunjuk atau pengarahan pandangan pada kursi itu, maka harus secara eksplisit menyebutkan kata kursi itu.
Sumber:
Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie. 2004. Jakarta: Rineka Cipta.
